20 Tahun Gempa Jogja: InJourney Latih Ratusan Siswa Bantul Jadi Pionir Tanggap Bencana
- account_circle Warjono
- calendar_month Sab, 31 Jan 2026
- comment 0 komentar

Siswa siswi SMA di Yogyakarta mengikuti latihan tanggap bencana memperingati 20 tahun gempa Bantul. (istimewa)
TERAS MALIOBORO–Kenangan pahit gempa dahsyat 27 Mei 2006 silam di Yogyakarta kembali dibangkitkan. Bukan untuk meratap, melainkan sebagai bahan bakar kesiapsiagaan. Memperingati dua dekade peristiwa tersebut, InJourney Destination Management (IDM) menggelar pelatihan tanggap bencana bertajuk InJourney Community Care yang menyasar siswa-siswi SMA di wilayah terdampak paling parah.
Pelatihan intensif ini melibatkan 200 pelajar dari SMA Negeri 1 Pundong dan SMA Negeri 1 Jetis, Kabupaten Bantul, pada 28–29 Januari 2026. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk menanamkan budaya siaga bencana sejak usia dini.
Membangun Memori Kolektif dan Keterampilan Evakuasi
Bukan tanpa alasan Pundong dan Jetis dipilih sebagai lokasi pelatihan. Kedua wilayah ini merupakan episentrum kehancuran saat lindu besar mengguncang 20 tahun silam. Kisah tragis dari masa lalu, seperti yang dialami Azkia Shofwa Al Maala (16), siswi SMA 1 Jetis yang kehilangan kakek dan neneknya dalam tragedi tersebut, menjadi pengingat pentingnya edukasi mitigasi.
“Dulu kalau ada simulasi, saya pikir lari keluar dengan panik itu benar. Sekarang saya tahu kepala harus dilindungi dulu dan mencari tempat perlindungan yang aman sebelum menuju titik kumpul (assembly point),” tutur Azkia.
Operation Group Head IDM, Leonardus Adityo Nugroho, menegaskan bahwa komitmen ini bertujuan memperkuat kesadaran masyarakat di daerah rawan bencana. “Pelatihan ini untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar pelajar dalam menghadapi situasi darurat tanpa kepanikan,” jelasnya.
Target 1.000 Siswa Tangguh
Yogyakarta memiliki tantangan bencana yang kompleks. Berdasarkan data Sekber Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) DIY, terdapat 14 potensi bencana di Jogja, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga cuaca ekstrem. Program InJourney Community Care ini pun tidak berhenti di Bantul saja.
IDM menargetkan total 1.000 peserta dari 10 sekolah yang tersebar di Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Bantul, hingga Kota Yogyakarta. Program ambisius ini diharapkan tuntas sebelum puncak peringatan 20 tahun gempa pada Mei 2026 mendatang.
Langkah kolaboratif yang didukung Kemenko PMK dan Disdikpora DIY ini diharapkan mampu melahirkan pionir-pionir muda yang tidak hanya tangguh secara individu, tetapi juga mampu menularkan ilmu mitigasi kepada keluarga dan lingkungan sekitar mereka. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar