Den Baguse Ngarso Meninggal, Teman dan Warga Kenang Sosok di Balik Karakter Ikonik
- account_circle Warjono
- calendar_month Sel, 22 Sep 2026
- comment 0 komentar

Den Baguse Ngarso
TERAS MALIOBORO–Den Baguse Ngarso meninggal pada Senin (21/9/2026) sore, meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, dan dunia seni Yogyakarta. Namun di balik karakter priyayi yang angkuh dan kerap menyentil lewat layar kaca, ada sosok Susilo Nugroho yang dikenang orang-orang terdekat sebagai pribadi sederhana, serius di rumah, tetapi hangat dan jenaka ketika berkumpul.
Kepergian Susilo, 67 tahun, terasa mendadak. Keluarga masih mendapati aktivitasnya berjalan seperti biasa sehari sebelumnya. Ia bahkan masih menerima tamu pada Minggu sore dan sempat membeli bakmi pada malam harinya. Menurut keterangan keluarga, Susilo sempat mengeluhkan nyeri di dada kiri.
Dari Den Baguse Ngarso yang Galak di Layar hingga Susilo yang Hangat di Angkringan
Bagi banyak orang, nama Susilo Nugroho mungkin kalah populer dibanding nama karakternya: Den Baguse Ngarso.
Karakter itulah yang membuat wajahnya begitu akrab bagi masyarakat Yogyakarta dan penonton Mbangun Deso. Den Baguse Ngarso tampil sebagai sosok priyayi yang keras, angkuh, merasa paling tahu, sekaligus gemar melontarkan kritik melalui humor. Peran tersebut kemudian menjadi salah satu identitas paling kuat dalam perjalanan seninya.
Ironisnya, gambaran itu justru berbanding terbalik dengan kesan yang ditinggalkan Susilo di lingkungan tempat tinggalnya.
Keluarga mengenangnya sebagai sosok yang cenderung serius dalam keseharian. Namun ketika sudah berkumpul bersama tetangga, terutama di angkringan, sisi humornya muncul. Sehari sebelum meninggal, Susilo bahkan masih sempat berbincang bersama kakaknya di angkringan depan rumah.
Kabar kepergiannya pun memunculkan gelombang kenangan dari warga Yogyakarta. Banyak orang tidak hanya mengingatnya sebagai aktor, tetapi juga sebagai bagian dari masa kecil dan kehidupan mereka.
Di media sosial, ucapan belasungkawa bermunculan dalam bahasa Jawa maupun Indonesia. Sebagian mengenang Mbangun Deso sebagai tontonan keluarga pada era 1990-an. Sebagian lainnya mengingat sosok Susilo sebagai guru yang ramah dan humoris.
Ada pula warga yang merasa kehilangan karena beberapa hari sebelumnya masih melihat Susilo beraktivitas seperti biasa.
“Hari senin minggu yll terakhir ketemu dpn rumahnya jogokaryan,saya gowes dari timur di stop,sik2...salaman. Lalu bilang: sehat yoo sesama penggemar gula,aku mbiyen cilikanne nak nonton tv ning omah e bapakmu,” unggah Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono di FB-nya. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar