Lebih Berbahaya, Presiden Al-Quds University Sebut Israel Tak Sekadar Menjajah, Tapi Ingin Menghapus Identitas Palestina
- account_circle Warjono
- calendar_month Rab, 14 Jan 2026
- comment 0 komentar

Presiden Al-Quds University Prof Dr Imad Abu Kishek. (istimewa)
TERAS MALIOBORO–Narasi konflik Palestina kini telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Bukan lagi sekadar pendudukan militer (occupation), namun telah bergeser menjadi strategi sistematis untuk menggantikan keberadaan rakyat Palestina secara total, terutama di wilayah suci Yerusalem.
Peringatan keras tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Al-Quds University, Palestina, Prof. Dr. Imad Abu Kishek, dalam kuliah tamu bertajuk “Life Under Siege: Resistance & Hope of Palestine” yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (13/1/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, Prof. Imad membedah bagaimana kebijakan Israel saat ini dirancang untuk memaksa warga asli Palestina tunduk, bermigrasi, atau dihabisi jika memilih bertahan.
Ganti Penduduk, Bukan Jajah Wilayah
Prof. Imad menjelaskan bahwa apa yang terjadi di Palestina hari ini adalah hasil dari desain sejarah jangka panjang sejak awal abad ke-20. Strategi ini semakin agresif di bawah pemerintahan Israel yang berhaluan ekstrem.
“Palestina hari ini tidak menghadapi pendudukan biasa, melainkan sebuah strategi penggantian (replacement strategy). Palestina tidak lagi diposisikan sebagai wilayah yang diduduki, melainkan sebagai ruang yang hendak dikosongkan,” tegas Prof. Imad.
Kondisi ini, menurutnya, membuat solusi dua negara (two-state solution) menjadi semakin mustahil diwujudkan karena ruang kompromi telah ditutup rapat oleh kebijakan pengosongan wilayah tersebut.
Yerusalem Target Utama
Dalam paparannya, Prof. Imad menyoroti Yerusalem sebagai pusat gravitasi konflik. Baginya, Yerusalem bukan sekadar kota bersejarah, melainkan kunci kendali kawasan yang memiliki kepentingan geopolitik masif.
Penekanan terhadap warga Palestina di Yerusalem dilakukan secara halus namun mematikan melalui:
- Pembatasan Administratif: Kesulitan izin tinggal dan pembangunan.
- Tekanan Ekonomi: Mempersempit ruang gerak usaha warga lokal.
- Kriminalisasi Perlawanan: Menekan segala bentuk gerakan sipil.
“Yerusalem adalah ruang paling rentan sekaligus paling menentukan. Bagi kami, Yerusalem bukan sekadar kota, ia adalah pusat identitas, keyakinan, dan martabat rakyat Palestina,” imbuhnya.
Masjid Al-Aqsa Benteng Terakhir
Simbol utama dari perlawanan sistematis ini adalah Masjid Al-Aqsa. Prof. Imad menegaskan bahwa rakyat Palestina memandang diri mereka sebagai penjaga (guardians) situs suci tersebut. Setiap upaya pembatasan akses ke Al-Aqsa selalu memicu respons kolektif karena menyentuh akar identitas paling dalam.
Melalui forum di UMY ini, Prof. Imad mengajak dunia akademik untuk tidak terjebak pada penyederhanaan informasi global yang sering mengabaikan akar struktural konflik. Ia mendorong sivitas academika untuk memiliki pemahaman kritis bahwa konflik ini adalah hasil kebijakan politik yang terstruktur, bukan sekadar bentrokan bersenjata biasa.
Kunjungan Presiden Al-Quds University ke Yogyakarta ini sekaligus mempertegas solidaritas akademik internasional dalam menyuarakan hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina yang kian terhimpit oleh strategi sistematis. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar