ISTI’ARAH, AMSAL, DAN ‘IBRAH DALAM AL-QURAN
- account_circle Ustadz Sujarwo
- calendar_month Sel, 9 Jun 2026
- comment 0 komentar

Teras Malioboro – Dalam bahasa Arab, kita mengenal istilah الِاسْتِعَارَةُ (al-isti’arah), saudara dekat dari apa yang dalam filsafat dan linguistik modern disebut metafora. Ketika Al-Quran berbicara tentang cahaya, jalan, hati yang hidup, atau hati yang buta, yang dimaksud sering kali bukan sekadar cahaya, jalan, atau mata hati dalam pengertian lahiriah semata. Bahasa seolah meminjam pakaian lain agar makna yang tersembunyi dapat menampakkan keindahan. Melalui isti’arah, yang tak terlihat menjadi dekat dalam pandangan, dan yang jauh menjadi hadir dalam kesadaran.
Namun Al-Quran tidak berhenti pada keindahan isti’arah. Allah juga menghadirkan الْأَمْثَالُ (al-amsal), yaitu perumpamaan-perumpamaan yang hidup dan menghidupkan. Rumah laba-laba yang rapuh, sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh bulir, hujan yang menghidupkan tanah yang gersang, atau batu yang lebih keras daripada perasaan. Semuanya bukan sekadar susunan kata yang menawan. Ia adalah ruang perjumpaan antara akal dan keimanan. Jika isti’arah ibarat sebuah jendela pandangan, maka amsal adalah bentangan alam yang menghadirkan kekaguman.
Akan tetapi, tujuan Al-Quran ternyata lebih jauh daripada sekadar menghadirkan pemahaman. Allah menghendaki lahirnya الْعِبْرَةُ (al-‘ibrah), yakni pelajaran yang melahirkan perubahan. Kata ini berasal dari akar kata عَبَرَ, yang berarti menyeberang. Karena itu, seseorang belum memperoleh ‘ibrah hanya karena ia memahami sebuah kisah atau perumpamaan. ‘Ibrah lahir ketika ia mampu menyeberang dari kata menuju kedalaman, dari makna menuju kesadaran, dan dari kesadaran menuju perubahan.
Itulah sebabnya dua orang dapat membaca ayat yang sama namun pulang membawa bekal yang berlainan. Yang satu hanya menemukan cerita, sementara yang lain menemukan cermin kehidupan. Yang satu menikmati kisah Nabi Yusuf sebagai rangkaian peristiwa yang mengagumkan. Yang lain menemukan percikan iri saudara-saudara Yusuf yang masih bersembunyi dalam lipatan perasaan. Yang satu sekadar menyaksikan perjalanan kenabian, sementara yang lain menemukan kesabaran Nabi Ya’qub sebagai jawaban atas luka yang selama ini ia simpan dalam kesunyian. Pada saat itulah isti’arah dan amsal melahirkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pengetahuan, yakni kebijaksanaan.
Barangkali di situlah letak keistimewaan metode pendidikan Al-Quran. Metafora membantu manusia membangun bayangan. Isti’arah memperhalus sekaligus memperdalam pemahaman. Amsal mendekatkan yang abstrak menjadi kenyataan. Namun semuanya bermuara pada tujuan yang sama: menghadirkan ‘ibrah yang mengantarkan perubahan. Sebab Al-Quran tidak diturunkan untuk memenuhi rak-rak hafalan, melainkan untuk menumbuhkan kebun-kebun kebijaksanaan.
Karena itu, setiap kali membaca ayat, kisah, atau perumpamaan dalam Al-Quran, jangan sebatas bertanya, “Apa arti ayat ini?” Bertanyalah pula, “Apa yang sedang Allah tunjukkan tentang diriku melalui ayat ini?” Sebab cahaya hidayah sering kali tidak lahir saat kita berhasil menemukan penjelasan, melainkan ketika ayat itu perlahan menyingkap tabir yang selama ini menutupi hati dan pandangan.***
- Penulis: Ustadz Sujarwo






Saat ini belum ada komentar