Kas Sering Tombok, Denda 100 Ribu Berlaku: Cara Tak Biasa Pedagang “Foodcourt” Denggung Jaga Kekeluargaan
- account_circle Warjono
- calendar_month Sen, 28 Sep 2026
- comment 0 komentar

Suasana foodcourt Denggung. (dokumentasi)
TERAS MALIOBORO–Jika biasanya lapak kuliner identik dengan persaingan ketat berebut pembeli, pemandangan berbeda justru terlihat di Foodcourt Denggung, Sleman. Di pusat kuliner yang terlihat cukup ramai saat jam makan siang itu, para pedagangnya justru mengikat diri dalam satu keluarga besar.
Kekompakan itu dirajut lewat Paguyuban Foodcourt Denggung. Ketua Paguyuban, Tri Maryadi, menegaskan wadah ini bukan sekadar perkumpulan pedagang, melainkan jembatan antara pedagang dengan pemerintah sekaligus penjaga solidaritas.
“Kami di sini sifatnya membantu dan melaksanakan arahan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman. Mulai dari meneruskan aturan baru, sampai membantu pemungutan iuran resmi. Tujuannya satu, kawasan kuliner ini harus tetap tertib, bersih, dan nyaman buat pembeli,” kata Tri.
Namun cerita paling menyentuh bukan soal aturan dagang, melainkan soal rasa empati.
Setiap pedagang sepakat menyisihkan iuran sosial sebesar Rp10.000. Nominal yang terlihat kecil, namun maknanya besar. Uang itu sepenuhnya akan kembali kepada anggota yang sedang tertimpa musibah, entah sakit, keluarga meninggal, atau kesulitan lainnya. Paguyuban hadir bukan hanya dengan doa, tapi juga bantuan nyata.
Yang membuat kisah ini istimewa, kas paguyuban sendiri sejatinya sangat tipis. Tidak ada pemasukan besar dari lapak. Kas hanya mengandalkan sisa pengelolaan listrik dan retribusi sampah harian para pedagang. Tak jarang, ketika musibah datang bertubi-tubi dan dana sosial tak cukup, pengurus harus rela menomboki dari kas paguyuban.
“Uang sosial itu ya murni dari anggota dan kembali ke anggota. Kalau pas banyak yang musibah atau sakit lalu dananya kurang, ya ditalangi dari kas. Yang penting kebersamaan dan rasa saling bantunya ada,” ujar Tri lirih namun bangga.
Kekeluargaan saja tidak cukup tanpa kedisiplinan. Bagi paguyuban ini, kebersihan adalah harga mati. Agar Denggung tetap higienis dan membuat pembeli betah berlama-lama, kerja bakti rutin menjadi agenda wajib.
Untuk memastikan semua punya rasa tanggung jawab yang sama, lahirlah kesepakatan yang cukup tegas: denda Rp100.000 bagi siapa saja yang mangkir kerja bakti tanpa alasan jelas. Aturan ini, kata Tri, bukan untuk mencari uang atau memberatkan, melainkan komitmen bersama yang lahir dari musyawarah seluruh anggota.
“Soal denda Rp100 ribu itu bukan buat memberatkan, tapi murni kesepakatan bersama biar sama-sama punya rasa tanggung jawab. Kalau lingkungan bersih dan rapi, yang menikmati kan kita sendiri dan pembeli juga makin betah,” tegasnya.
Agar hubungan tak melulu soal iuran dan denda, paguyuban juga punya tradisi manis, piknik bersama satu tahun sekali. Sejenak meninggalkan wajan dan kompor, para pedagang beserta keluarga melepas penat, tertawa bersama, dan mempererat silaturahmi.
“Ya sekarang yang kami punya rasa kekeluargaan itu mas. Kalau soal ramai, mungkin sekarang saking banyaknya orang jualan ya. Gak seperti dulu,” imbuhnya. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar