Breaking News
Trending Tags
Beranda » BUDAYA » Pameran Seni Rimpang Rasa di Yogyakarta: Kritik Keras atas Klaim Kota Gudeg sebagai Pusat Seni Rupa Indonesia

Pameran Seni Rimpang Rasa di Yogyakarta: Kritik Keras atas Klaim Kota Gudeg sebagai Pusat Seni Rupa Indonesia

  • account_circle Warjono
  • calendar_month Ming, 21 Jun 2026
  • comment 0 komentar

TERAS MALIOBORO–Bertempat di Kiniko galeri Yogyakarta, dalam rangkaian pameran Seni Rupa Rimpang Rasa, Narasi Rawan. Sahaja: Kala Rupa Bersua” digelar diskusi seni sebelum pameran secara resmi dibuka. Diskusi yang cukup penuh kritik atas posisi peran kolektor, seniman, karya seni, sejarah seni rupa Indonesia sampai representasi museum seni, sekaligus mempertanyakan secara tegas posisi Yogyakarta yang katanya sebagai pusat pergerakan seni.

Hadir sebagai pembicara seniman Ugo Untoro, Kolektor seni Daniel Ginting dan Kurator seni  Rizky A. Zaeleni, dan dipandu oleh seniman Jumaldi Alfi. Diskusi yang semula membicarakan tentang  keyakinan bahwasanya tidak ada karya seni yang lahir secara terpisah dari karya-karya yang mendahuluinya.

Sedangkan penyelenggaraan pameran digagas dengan mengajak para seniman untuk merespons karya yang telah ada melalui ekspresi artistik baru, sehingga tercipta percakapan imajiner yang melintasi ruang dan waktu, menjadi menarik dikaitkan dengan respon realita perkembangan seni rupa saat ini.

Rizki A. Zaelani  sebagai kurator pameran, berbicara menyoroti tentang pameran yang digagas bersama Ginting Institute, Zen 1 Gallery dan Kiniko Gallery ingin mengungkapkan momen ketika rupa bersua, dengan maksud bahwa ketika sebuah karya berdampingan dengan karya tanggapannya, akan membuka kemungkinan lahirnya makna, tafsir, dan penciptaan baru.

Lebih lanjut menurut kurator asal Bandung, bahwa pameran ini tidak berupaya menempatkan karya dalam hirarki nilai tertentu ataupun membatasi pemahaman seni pada satu kerangka teoritis. Sebaliknya, pameran ini menegaskan bahwa seni, seniman, dan karya seni merupakan bagian dari sebuah semesta penciptaan yang terus bergerak, berkembang, dan saling menghidupkan.

Melalui pertemuan antara karya yang telah ada dan karya yang akan ada, pameran ini mengajak publik untuk melihat bahwa setiap karya seni adalah jejak keberadaan sekaligus ruang terbuka bagi pengalaman dan penafsiran yang terus berubah.

Dalam perspektif ini, karya seni tidak hanya dipahami sebagai obyek material atau artefak budaya, melainkan sebagai manifestasi hubungan antara manusia, nilai-nilai etis, lingkungan sosial-budaya, dan alam semesta tempat kehidupan berlangsung.

“Kala Rupa Bersua” juga menjadi kesempatan untuk menimbang kembali pemahaman umum tentang seni. Jika selama ini kualitas karya sering kali dilekatkan semata-mata pada penguasaan pengetahuan oleh seorang seniman, pameran ini justru menghadirkan ruang yang memungkinkan karya berbicara melalui kehadirannya sendiri. Sebuah karya dapat menyapa, menginspirasi, dan menghidupkan penciptaan berikutnya tanpa harus dibatasi oleh penjelasan konseptual yang kaku.

Gagasan ini berangkat dari keyakinan bahwa tradisi seni hidup melalui proses saling merespons, saling memengaruhi, dan saling menghidupkan. Setiap karya membawa jejak pengalaman, nilai, dan misteri kehidupan yang tidak pernah selesai dimaknai. Dalam perjumpaan tersebut, para seniman tidak hanya menafsirkan apa yang telah ada, tetapi juga berupaya menjaga agar karya-karya tersebut tetap hidup melalui penciptaan baru yang lahir dari dialog artistik yang berkelanjutan.

Daniel Ginting, seorang kolektor sekaligus salah satu penggagas acara mengatakan bahwa Rimpang Rasa kehadirannya lebih dari sekadar peristiwa pameran, “Sahaja: Kala Rupa Bersua” merupakan undangan untuk merayakan seni sebagai ruang perjumpaan, refleksi, dan kemungkinan. Sebab seni tidak boleh berhenti di ruang pamer. Seni harus hadir di tengah masyarakat, membuka percakapan, membangun empati, dan menggerakkan tindakan.

Lebih lanjut menurut Daniel, melalui pameran ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan karya, seniman, dan publik dalam sebuah pengalaman bersama yang memperkaya pemahaman tentang kehidupan, keberadaan, dan kemanusiaan. Melalui peristiwa kala rupa bersua ini, seni dihadirkan bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan, dipikirkan, diperdebatkan, dan terus dihidupkan sebagai bagian dari perjalanan bersama dalam memahami dunia dan diri kita sendiri.

Pameran Seni Rimpang Rasa dibanjiri pengunjung. (istimewa)

Daniel dan Quoriena Ginting yang telah menerbitkan buku Rimpang Rasa, adalah representasi kolektor yang mengambil jalur lain di antara kecenderungan  pandangan kolektor Indonesia biasanya. Pasangan kolektor ini berangkat dari koleksi porselin antik China yang penuh sejarah peradaban, dilanjutkan dengan koleksi wastra yang menggambarkan cerita tradisi di nusantara, kemudian bertemu dengan karya seni rupa. Mereka mengoleksi karya berdasarkan ke”suka”an yang kemudian dirangkai menjadi sebuah makna dan cerita – suatu pendekatan yang di luar “main stream” yang menekankan nilai dan harga.

Ugo Untoro perupa yang meiliki kegilaan membaca buku menggarisbawahi tentang pentingnya keterkaitan sejarah dalam melihat perkembangan sebuah karya. Ugo tidak mengkait-kaitkan, bahwa ada kecenderungan seniman muda tidak peduli dengan sejarah seni bahkan tidak tahu siapa pelukis sekelas Sudjojono, Hendra serta Affandi.

Meskipun pernyataan Ugo direspon oleh  kurator dan pelaku seni rupa Nirwan Dewanto bahwa untuk seniman muda yang berkarya tidak ada sangkut pautnya dengan sejarah seniman Indonesia terdahulu, apakah memang merasa penting untuk memahami sejarah tentang seniman Indonesia terdahulu.

Tak kalah menarik,  Jumaldi Alfi yang memberikan kritik bahwa di angkatan dia dan Ugo mungkin masih dikenal, namun di atasnya bahkan para maestro pelukis Indonesia sudah tidak dikenal.

Peristiwa demi peristiwa seolah terlewatkan, bahwa ada sejarah seni yang mestinya menjadi garis koneksi penting malah luput dari pembacaan, apalagi pencatatan. Buku Rimpang Rasa yang membukukan dan membuat peristiwa seni setidaknya berupaya meletakkan akar persoalan dan menjawab kegelisahan yang dibicarakan dalam diskusi saat ini, tambah Alfi.

Rizki A.Zaelani dengan pendekatan pada rujukan bahwa sejarah seni rupa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari bagian sejarah kebangsaan, justru semakin mematik diskusi serius bahwa apakah perlu sejarah seni lepas kehadirannya secara substansi seni saja. Kenyataan ini pun telah dicoba dengan pengalaman kehadiran dari proyek-proyek Galeri Nasional yang pada kenyataannya hasilnya bisa kita lihat sampai sekarang.

Daniel Ginting yang merespon tentang pembicaraan sejarah seni, menurutnya ada kemiskinan informasi pada seni di era 90-an yang jejaknya sangat samar untuk dibicarakan. Menurut kolektor yang juga pengacara ini, bahwa ini sudah menyangkut banyak hal tentang adanya keberpihakan bahwa karya seni rupa hanya ramai pada wilayah pasar, sementara masyarakat seni rupa tidak berhasil menghadirkan gerakan atau menjadikan perjalan seni rupa belakangan ini sebagai bagian dari sejarah.

Daniel Ginting yang sering mengamati “kecenderungan (bukan gerakan) seni rupa dan membaca referensi dan literatur-literatur seni, tidak menemukan pemaknaan dari kegiatan (bukan pergerakan) yang ada, semuanya mengalir begitu saja secara sporadis, bahkan sudah berpuluh-puluh tahun apa yang dipikiran dan disuarakan tidak menjadi pergerakan nasional yang memberi warna, termasuk diskusi-diskusi yang jumlahnya tidak terhitung hilang dan lenyap.

Apa yang disampaikan Daniel memang sangat beralasan, dan ini sekaligus tamparan bagi Yogyakarta yang katanya sejak dulu sebagai “Vatikan” atau pusatnya pergerakan seni rupa Indonesia. (*)

 

  • Penulis: Warjono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • QRIS DIY Tembus Rp 41,09 Triliun: Didominasi UMKM, Kunci Pertumbuhan Ekonomi Yogyakarta

    QRIS DIY Tembus Rp 41,09 Triliun: Didominasi UMKM, Kunci Pertumbuhan Ekonomi Yogyakarta

    • calendar_month Kam, 13 Nov 2025
    • 0Komentar

    ​TERAS MALIOBORO–Transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan lonjakan fantastis, menjadi indikator utama akselerasi digitalisasi ekonomi di daerah. Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan DIY menunjukkan, total nominal transaksi QRIS secara kumulatif telah menembus angka Rp41,09 triliun hingga September 2025, dengan pertumbuhan meroket hingga 237,19% secara tahunan […]

  • Ratusan Personel Gabungan “Kepung” Sampah Liar di Ring Road Selatan

    Ratusan Personel Gabungan “Kepung” Sampah Liar di Ring Road Selatan

    • calendar_month Jum, 13 Feb 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Gerakan kolektif untuk memerangi sampah liar resmi dimulai dari kawasan strategis Ring Road Selatan. Ratusan personel gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, relawan, hingga ASN Kabupaten Bantul terjun langsung melakukan aksi kerja bakti atau korve besar-besaran di sepanjang jalur Ketandan hingga UMY pada Jumat (13/2/2026). Aksi nyata ini merupakan implementasi dari Gerakan Bantul ASRI […]

  • Berbagi Kebaikan dengan Program Mudik Bersama Gratis, Bank Mandiri Berangkatkan 10.000 Lebih Pemudik

    Berbagi Kebaikan dengan Program Mudik Bersama Gratis, Bank Mandiri Berangkatkan 10.000 Lebih Pemudik

    • calendar_month Rab, 18 Mar 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri, Bank Mandiri kembali menghadirkan Program Mudik Bersama Gratis sebagai wujud nyata komitmen perusahaan dalam memperkuat nilai sosial dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui program ini, Bank Mandiri menyelenggarakan rangkaian mudik bersama yang aman dan nyaman bagi masyarakat, sejalan dengan arahan pemerintah untuk mendukung penyelenggaraan […]

  • Batik Jogja “Goes to Korea”: Inovasi Hanbok Djadi Batik Tembus Pasar Singapura hingga Dilirik Wamen Ekraf

    Batik Jogja “Goes to Korea”: Inovasi Hanbok Djadi Batik Tembus Pasar Singapura hingga Dilirik Wamen Ekraf

    • calendar_month Sel, 10 Feb 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Siapa sangka, perpaduan antara siluet elegan Hanbok khas Korea Selatan dengan filosofi dalam Batik tulis Yogyakarta mampu menciptakan komoditas ekspor yang menjanjikan. Djadi Batik, unit usaha kreatif asal Bantul, sukses membuktikan bahwa akulturasi budaya adalah kunci memenangkan pasar di era globalisasi. Didirikan oleh Usnul Djadi pada 2019, brand ini bermula dari keresahan personal seorang […]

  • Kelanjutan Kasus di Purwokerto, Fakta Baru Terungkap bahwa Korban Diminta Tutup Mulut oleh Sang Ratu Investasi Bodong

    Kelanjutan Kasus di Purwokerto, Fakta Baru Terungkap bahwa Korban Diminta Tutup Mulut oleh Sang Ratu Investasi Bodong

    • calendar_month Jum, 24 Jul 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – Mengejutkan! Sejumlah fakta baru terungkap dalam perkembangan kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan Ratu Investasi Bodong NHS alias Dika (36), pemilik Kedai Tuas di Banyumas. Dalam memuluskan aksi kejahatannya, tersangka selain memperdaya ternyata juga “mengintimidasi” secara psikis para korbannya. Informasi dari sejumlah korban yang telah melapor ke Polresta Banyumas, mereka diminta oleh […]

  • Mentan Bongkar “Kartel Gabah” Penyebab Kenaikan Harga Beras

    Mentan Bongkar “Kartel Gabah” Penyebab Kenaikan Harga Beras

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Polemik kenaikan harga beras yang terus terjadi di pasar kembali memanas, memicu tudingan bahwa Perum Bulog menjadi penyebab distorsi harga karena penyerapan gabah yang masif. Namun, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menepis anggapan tersebut dengan mengungkap fakta mengejutkan mengenai struktur penguasaan gabah nasional. ​Dalam sebuah pertemuan di Jakarta, Mentan Amran dengan tegas menyatakan […]

expand_less