Sombong
- account_circle Ustadz Sujarwo
- calendar_month Kam, 5 Mar 2026
- comment 0 komentar

TERAS MALIOBORO – “Tidak akan masuk surga bagi seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong. Meskipun sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”
Ikhlas, tidak mungkin berjalan seiring dengan sombong. Sabar tidak mungkin menapak berdampingan dengan sombong. Tawakal, tidak akan pernah melangkah bersisian dengan sombong. Syukur, tidak akan pernah menjejak bergandengan dengan sombong.
Orang yang ikhlas, tidak mungkin sombong. Orang sombong, tidak mungkin ikhlas. Orang syukur, tidak mungkin sombong. Orang sombong tidak mungkin syukur. Orang sabar, tidak mungkin sombong. Orang sombong, tidak mungkin sabar. Orang tawakal, tidak mungkin sombong. Orang sombong, tidak mungkin tawakal.
Syukur, sabar, tawakal, dan ikhlas, sifat terpuji yang bersumber dari kepatuhan dan merunduk pasrah kepada Allah yang Maha Kasih. Bersandar dan bergantung sepenuhnya, kepada Dzat yang Maha Rahim. Dalam segala hal, tanpa kecuali. Dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Dari yang super sederhana dan mudah, sampai yang super rumit dan sulit.
Sementara sombong, bersumber pada diri yang merasa mampu dan bisa. Merasa punya kuasa dan perkasa. Merasa kuat dan hebat. Merasa cerdas dan pintar. Merasa berpunya dan kaya. Merasa penentu dan pemutus segala. Karenanya, orang sombong, berani dan nekat melawan apa-apa yang ditetapkan Allah. Karenanya, orang sombong, merasa lebih tinggi dan memandang rendah terhadap sesama.
“Sombong itu menolak kebenaran dan memandang rendah sesama.” [HR. Muslim]
“Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong. Karena sesungguhnya, dirimu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” [QS. 17 : 37]
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [QS. 31 : 18]
Imam Ghazali memberi tips sederhana untuk menghindari sombong terhadap sesama. Kita diminta untuk berpikir positif terhadap siapa saja. Sekaligus juga, mampu menangkap dan mengungkit nilai lebih yang mereka punya.
Terhadap anak-anak, kita pandang mereka lebih mulia, karena belum banyak melakukan dosa. Terhadap orang tua, kita pandang mereka lebih mulia, karena lebih lama telah beribadah. Terhadap orang bodoh, kita pandang mereka lebih mulia, karena orang bodoh melakukan kesalahan dalam kebodohannya. Sementara kita, melakukan kesalahan dalam keadaan mengetahuinya.
Terhadap orang alim, kita lihat mereka lebih mulia, karena ilmunya luar biasa. Terhadap orang jahat, kita melihat bahwa mereka bisa saja lebih mulia. Bila suatu saat bertobat. Bahkan, terhadap orang kafir, kita melihat bahwa mereka bisa saja lebih mulia, bila suatu waktu hidayah tiba. Mereka memeluk Islam dengan erat. Kemudian, Allah ampunkan kesalahan dan dosanya yang telah lewat.***
- Penulis: Ustadz Sujarwo
- Editor: Ustadz Sujarwo






Saat ini belum ada komentar