Breaking News
Trending Tags
Beranda » HEADLINE » ‘Untold Story’ Hadirkan Potret Nyata Dunia PR yang Tak Tersentuh Sorotan Publik

‘Untold Story’ Hadirkan Potret Nyata Dunia PR yang Tak Tersentuh Sorotan Publik

  • account_circle Chaidir
  • calendar_month Sen, 3 Nov 2025
  • comment 0 komentar

TERAS MALIOBORO – Di tengah gegap gempita industri kreatif yang kian bersinar di era digital, ada profesi yang jarang mendapat sorotan. Mereka bukan artis, bukan sutradara, dan bukan pula eksekutif yang tampil di panggung konferensi pers. Namun, kehadiran mereka menentukan bagaimana sebuah merek, lembaga, atau industri dipersepsikan publik. Mereka adalah para praktisi Public Relations (PR)—penjaga keseimbangan citra, reputasi, dan kepercayaan di balik layar.

Kisah mereka kini terungkap dalam buku terbaru terbitan Gramedia berjudul “Untold Story – Strategi Public Relations di Industri Kreatif” karya Nugroho Agung Prasetyo. Buku ini menjadi semacam pintu masuk ke dunia PR yang selama ini lebih banyak bekerja dalam diam. Di antara gemerlap iklan, tayangan, dan konten viral, ada proses panjang penuh strategi, empati, dan pertimbangan etis yang jarang diketahui publik.

“PR sering kali berada di tengah tekanan antara nilai, bisnis, dan persepsi publik. Buku ini saya tulis bukan untuk mengagungkan profesi, melainkan untuk menunjukkan bahwa di balik setiap krisis atau isu besar, ada upaya tulus untuk menjaga kepercayaan,” ujar Nugroho Agung saat dihubungi di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Sebagai praktisi dan akademisi komunikasi dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia penyiaran dan industri kreatif—mulai dari SCTV, ANTV, MNC Sky Vision, hingga NET TV—Nugroho menulis dari pengalaman nyata yang tak selalu indah. Ia menyajikan kisah-kisah yang mencerminkan pergulatan batin, dilema etika, dan keputusan strategis yang diambil dalam tekanan waktu dan opini publik.

Baca Juga : Eco-Theology dan Generasi Madrasah Merawat Bumi

Salah satu cerita paling menggugah di awal buku terjadi pada awal 2000-an, saat dua stasiun televisi nasional diterpa gelombang demonstrasi anti-pornoaksi. Bagi sebagian pihak, itu adalah badai krisis reputasi yang menakutkan. Namun bagi tim PR yang dipimpin Nugroho, momen tersebut justru menjadi ujian kemanusiaan. “Kami memutuskan untuk tidak membalas dengan pernyataan defensif. Sebaliknya, kami turun langsung membawa tenaga medis membantu para demonstran yang kelelahan di bawah terik matahari,” kisahnya.

Tindakan sederhana itu mengubah arah situasi. Empati ternyata lebih ampuh dari sekadar siaran pers atau pernyataan resmi. “Dalam krisis, PR tidak hanya bicara. Ia mendengar, merasakan, dan bertindak,” ujarnya.

Dalam bab lain, Nugroho menulis tentang kisah seorang PR muda yang harus menolak permintaan seorang anggota militer yang ingin menyalin telenovela dari kantor televisi. Dengan bahasa yang lembut dan jujur, sang PR menjelaskan bahwa hal tersebut melanggar hak cipta. “Ia tidak menggunakan hukum sebagai tameng, tapi empati sebagai jembatan,” tulis Nugroho. Dari situ tumbuh rasa saling menghormati—dan pelajaran bahwa kejujuran kadang lebih kuat daripada kekuasaan.

Buku ini juga menyinggung pengalaman menghadapi resistensi sosial terhadap program atau produk kreatif tertentu. Alih-alih menutup diri, Nugroho dan tim memilih mendekat, mendengar, dan berdialog dengan pihak-pihak yang berseberangan pandangan. “Kami tidak sedang mencari musuh baru. Kami belajar untuk membangun jembatan pengertian,” katanya. Baginya, komunikasi bukanlah perang kata, melainkan seni memahami perasaan manusia di balik opini publik.

Setiap kisah dalam “Untold Story” dibangun di atas dua fondasi: pengalaman lapangan yang otentik dan teori komunikasi klasik seperti *Two-Way Symmetrical Model* (Grunig & Hunt), Agenda Setting Theory, hingga Narrative Paradigm (Walter Fisher). Dari ruang rapat krisis hingga studio penyiaran, setiap peristiwa menjadi studi kasus yang menunjukkan bahwa PR adalah profesi strategis yang berakar pada empati, etika, dan kemampuan membaca dinamika sosial.

“Buku ini juga saya tujukan bagi mahasiswa dan akademisi komunikasi, agar mereka memahami bahwa teori yang dipelajari di kampus akan benar-benar diuji di lapangan. Dan bagi praktisi, semoga menjadi refleksi bahwa PR bukan sekadar profesi berbicara, melainkan profesi mendengar,” tutur Nugroho yang kini juga aktif mengajar di LSPR dan Universitas Bakrie.

Baca Juga : Pandji P Djajanegara Ungkap Strategi Pengembangan Bank CIMB Syariah di Era Digital

Keterlibatannya di berbagai organisasi seperti Perhumas, APPRI, dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) turut memperkaya perspektifnya dalam menulis buku ini. Ia menegaskan, strategi PR di era media sosial tidak lagi cukup hanya dengan kecepatan informasi, tetapi juga dengan ketepatan empati. “Di era krisis etika dan personalisasi media, PR harus mampu membangun kepercayaan dari hati ke hati,” ujarnya.

Apresiasi pun datang dari berbagai kalangan. Boy Kelana Soebroto, Ketua Umum Perhumas, menyebut buku ini sebagai karya yang “menghadirkan pemahaman mendalam tentang bagaimana PR membentuk reputasi industri kreatif di tengah tantangan digital.”

Sementara Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, Ketua ISKI Pusat dan Dekan Fikom Universitas Padjadjaran, menilai buku ini penting karena “lahir dari praktik nyata yang diracik dengan landasan teori yang solid.”

Dr. (H.C.) Prita Kemal Gani, Founder & CEO LSPR, menyebutnya sebagai “potret jujur dunia PR di balik layar penyiaran.”

Sedangkan Sari Soegondo, Ketua Umum APPRI 2024–2027 sekaligus Co-Founder ID COMM, menilai karya ini relevan dengan tantangan era baru komunikasi. “Nugroho berhasil menunjukkan bahwa PR di masa kini bukan hanya soal citra, tapi tentang menjaga integritas dan empati di tengah guncangan informasi,” ujarnya.

“Untold Story – Strategi Public Relations di Industri Kreatif” tidak hanya menjadi buku panduan, tetapi juga cermin bagi setiap orang yang pernah berada di balik layar. Ia menggambarkan kerja-kerja senyap para penjaga reputasi—mereka yang bekerja dengan hati, berpikir dengan strategi, dan bergerak dengan empati.

Dalam dunia yang sibuk mencari sorotan, mereka memilih diam, mendengarkan, dan menata kepercayaan. Sebab, seperti ditulis Nugroho dalam epilog bukunya, “Setiap krisis menyimpan pelajaran. Setiap cerita adalah strategi. Dan setiap tindakan PR sejatinya adalah wujud dari kemanusiaan itu sendiri.” ***

  • Penulis: Chaidir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepala Perpusnas Akui Literasi Belum Memuaskan, Gelar Festival dan Gempur Penjuru Negeri dengan Buku

    Kepala Perpusnas Akui Literasi Belum Memuaskan, Gelar Festival dan Gempur Penjuru Negeri dengan Buku

    • calendar_month Sel, 28 Okt 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) secara resmi membuka Festival Literasi Perpusnas 2025 dengan sebuah pesan kuat. Di satu sisi, acara ini menjadi ajang apresiasi bagi para pegiat literasi. Di sisi lain, Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, memberikan catatan jujur bahwa perjuangan membangun budaya baca di Indonesia masih jauh dari kata memuaskan. Mengusung tema “Literasi Untuk […]

  • PBTY 2026 Bareng Ramadan, Siap Jadi Lokasi Ngabuburit Terkeren di Jogja

    PBTY 2026 Bareng Ramadan, Siap Jadi Lokasi Ngabuburit Terkeren di Jogja

    • calendar_month Sel, 20 Jan 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Ada yang istimewa dengan perayaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2026. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, kemeriahan tahun baru Imlek ini akan bertepatan dengan suasana syahdu bulan suci Ramadan 1447 H. Bukannya membatasi kemeriahan, momen langka ini justru akan dijadikan panitia untuk memoles kawasan Pecinan Ketandan menjadi destinasi ngabuburit yang unik bagi […]

  • Program Studi Magister Sosiologi UMM Undang Guru Besar Sosiologi Pembangunan UNS Surakarta

    Program Studi Magister Sosiologi UMM Undang Guru Besar Sosiologi Pembangunan UNS Surakarta

    • calendar_month Sel, 4 Nov 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – Komitmen untuk memperkuat analisa sosiologis pada studi-studi Kebijakan Publik dan Teori-Teori Sosiologi Postrukturalisme selalu diutamakan. Karenanya, Program Studi Magister Sosiologi Direktorat Program Pasca Sarjana (DPPS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Kuliah Pakar bagi mahasiswa Program Pascasarjana UMM. Kali ini, tema yang diangkat adalah “Governmentality dan Kebijakan Publik dalam Sosiologi Politik di […]

  • Saat Cerutu Jadi Diplomasi Budaya: Kisah Taru Martani Curi Perhatian di Panggung TEI 2025

    Saat Cerutu Jadi Diplomasi Budaya: Kisah Taru Martani Curi Perhatian di Panggung TEI 2025

    • calendar_month Sen, 20 Okt 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Di tengah riuh rendah ribuan produk modern yang memadati Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, stan PT Taru Martani menawarkan sesuatu yang berbeda: sebuah etalase warisan budaya. Produsen cerutu tertua asal Yogyakarta ini tidak hanya datang untuk berbisnis, tetapi mengemban misi sebagai “duta budaya” yang membawa narasi sejarah dan kebanggaan industri kreatif lokal ke panggung […]

  • Pasal Nikah Siri di KUHP Baru: Antara Penertiban Administrasi atau Kriminalisasi Hukum Agama?

    Pasal Nikah Siri di KUHP Baru: Antara Penertiban Administrasi atau Kriminalisasi Hukum Agama?

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Ketentuan pidana terkait praktik nikah siri dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional yang baru terus menuai perdebatan sengit. Pakar Hukum Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Khaeruddin Hamsin, Lc., LL.M., Ph.D., memperingatkan bahwa pasal-pasal tersebut berisiko menimbulkan multitafsir dan berbenturan keras dengan hukum yang hidup di masyarakat (living law). Menurut Khaeruddin, pernikahan pada […]

  • Mabrur Sepanjang Hayat, BPKH Wakaf Pohon di Gunungkidul Demi Kemaslahatan Lingkungan

    Mabrur Sepanjang Hayat, BPKH Wakaf Pohon di Gunungkidul Demi Kemaslahatan Lingkungan

    • calendar_month Sen, 22 Des 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – Badan Pengelola Keuangan Haji Republik Indonesia (BPKH RI) membawa angin segar dalam pengelolaan dana umat dengan mengintegrasikan nilai ibadah dan pelestarian alam. Melalui sebuah terobosan bertajuk “Wakaf Pohon”, BPKH berupaya menciptakan dampak ekologis yang bisa dirasakan lintas generasi sekaligus menjadi simbol kedermawanan jamaah haji Indonesia. Program Kemaslahatan BPKH RI 2025 ini resmi […]

expand_less