Bahagia Itu Sederhana #1
- account_circle Ustadz Sujarwo
- calendar_month Jum, 27 Feb 2026
- comment 0 komentar

TERAS MALIOBORO. Belum lama ini, saya melihat di medsos tentang kebahagiaan dua gadis tunarungu karena diterima bekerja. Hal itu, mengingatkan banyak pertemuan saya dengan pagi dan tawa anak-anak tuna netra yang berjalan dengan tongkat di tangan menuju sekolah. Murid sekolah inklusif Man 2 Sleman Jogja.
Saya malu dalam diam. Karena menyadari bahwa bahagia itu sederhana, yang rumit itu saya. Bahagia itu mudah dan apa adanya, yang membuatnya sulit dan ada-ada saja, ya lagi-lagi saya.
Sewajarnya, bahagia itu mudah dan sederhana. Keinginan kita yang membuatnya menjadi barang mewah dan langka. Normalnya, bahagia itu begitu dekat. Ego dan pikiran kita yang membuatnya seolah jauh berjarak, bersekat, dan sulit didekap.
Hidup ini telah Allah tentukan tujuan, rute, dan rambu-rambunya. Tidak ada yang samar. Semua jelas adanya. Kita hanya diminta mengimani dan mengamini. Kemudian meyakini, menapaki, dan menjalani. Tanpa keraguan sama sekali. Baik jalan menurun maupun mendaki. Jalan yang mulus maupun berduri.
Kita boleh memiliki keinginan dan harapan. Namun, terhadap pemenuhannya, tawakal kita jadikan pegangan. Setelah sebelumnya, rencana kita susun matang dan ikhtiar terbaik kita lakukan. Tidak ada keresahan dan kekuatiran. Sebab hasil, kita serahkan sepenuhnya ke pangkuan Allah yang Maha Rahman.
Dalam setiap ikhtiar dan amal sholeh terbaik yang kita hamparkan, ikhlas menjadi landasan dan panduan. Hanya karena Allah kita tunaikan. Tidak beriak dan riuh karena pujian. Tidak keruh dan berkeluh karena hinaan. Hati tetap tenang, apapun yang terjadi di sepanjang jalan. Sebab, fokus kita hanya disibukkan pada Zat yang Menciptakan. Bukan pada makhluk yang diciptakan.
Segala nikmat yang Allah limpahkan, kita terima dengan rasa syukur yang dalam. Kita kembalikan kepada Allah dengan bertasbih dan memuji Nya, siang dan malam. Kita jadikan talang dan saluran mengalirkan pelayanan. Kita jadikan kran mengucurkan kebaikan. Baik kepada sesama maupun semesta alam.
Adapun kesulitan dan musibah yang datang silih berganti. Kita terima dengan kesabaran yang tidak bertepi. Momentum mengevaluasi diri. Mohon ampunan tiada henti. Titian agar kita lebih rendah hati. Merobohkan ego yang gagah berdiri menjulang tinggi. Sirat, hanya kepada Allah kita berpasrah dan berserah diri. Jembatan, mengundang Allah untuk lebih dekat lagi mengiringi dan membersamai.
Bila sudah tiba di titik ini, bahagia tidak perlu lagi dikejar. Ia datang menyapa, mendekat, merapat, dan memeluk erat dengan sederhana dan apa adanya.***
- Penulis: Ustadz Sujarwo






Saat ini belum ada komentar