20 Tahun Gempa Yogyakarta, InJourney Latih 300 Siswa Jadi Agen Tanggap Bencana
- account_circle Warjono
- calendar_month Ming, 26 Apr 2026
- comment 0 komentar

Siswi sekolah di Yogyakarta berlindung di bawah meja. ratusan siswa mengikuti pelatihan tanggap bencana, sebagai bagian dari peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta. (istimewa)
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA–Dua dekade pasca bencana besar gempa bumi yang melanda Yogyakarta, kesadaran akan mitigasi bencana kini terus diperkuat hingga ke bangku sekolah. InJourney Destination Management (IDM) melalui program InJourney Community Care sukses membekali 300 siswa dari SMA 5 Yogyakarta, SMA 1 Sewon Bantul, dan SMA 1 Patuk Gunungkidul dengan keterampilan tanggap bencana. Pelatihan intensif yang berlangsung pada 21–22 April 2026 ini dirancang khusus untuk mencetak generasi muda yang sigap, tenang, dan terampil saat situasi darurat terjadi.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara IDM, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY melalui Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB).
Direktur Operasi InJourney Destination Management, Indung Purwita Jati, menekankan bahwa literasi bencana harus ditanamkan sejak dini.
“Target kita adalah siswa SMA agar mereka mampu menjadi agen perubahan. Dengan pemahaman yang matang, mereka bisa mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitarnya untuk bergerak cepat dan selamat saat bencana melanda,” ujarnya.
Tangguh di Jalur Sesar Opak
Pemilihan sekolah-sekolah dalam program ini tidak dilakukan secara acak. Koordinator PH Sekber SPAB DIY, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa sekolah sasaran berada di kawasan dengan risiko tinggi bencana gempa bumi, terutama yang dekat dengan lintasan Sesar Opak. Para peserta dibekali materi komprehensif, mulai dari mitigasi awal, pengenalan potensi bencana, hingga simulasi evakuasi mandiri yang melibatkan guru serta seluruh siswa.
Bagi generasi muda seperti Rahmat Sholeh Setiawan, siswa kelas 11 SMA 1 Patuk, pelatihan ini memberikan perspektif baru. Meski tidak mengalami langsung gempa besar tahun 2006, ia kini memahami bahwa kunci utama keselamatan adalah ketenangan.
“Ketenangan muncul jika kita menguasai materi tanggap bencana. Pelatihan ini membuat saya lebih fokus dalam menentukan langkah penyelamatan diri,” ungkapnya.
Hingga Mei 2026 mendatang, InJourney menargetkan total 1.000 siswa dari 10 sekolah di seluruh wilayah DIY mendapatkan pelatihan serupa. Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa keamanan dan keselamatan adalah pilar utama dalam membangun ekosistem destinasi yang berkelanjutan. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar