Pesan Mendalam Sri Sultan di HUT ke-196 Gunungkidul: Guyub Rukun Hadapi Gejolak Zaman
- account_circle Warjono
- calendar_month Rab, 14 Okt 2026
- comment 0 komentar

Rayahan hasil bumi meramaikan ranagkaian peringatan HUT Kabupaten Gunungkidul ke-196. (istimewa)
TERAS MALIOBORO–Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-196 Kabupaten Gunungkidul menjadi momentum penting refleksi tatanan pemerintahan dan sosial masyarakat. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan pentingnya memaknai semboyan “Gayeng Guyub, Waras Ragane, Tentrem Atine” sebagai perisai utama masyarakat dalam menghadapi pesatnya perubahan zaman serta gejolak alam.
Hal tersebut disampaikan Sri Sultan saat bertindak sebagai pembina upacara peringatan HUT ke-196 Gunungkidul yang berlangsung khidmat di Alun-Alun Wonosari, Rabu (14/10/2026).
Dalam pidato Sabda Jati-nya, Ngarsa Dalem menjelaskan bahwa semboyan tersebut mengandung tekad mendalam untuk mewujudkan tatanan kehidupan tata-titi-tentrem karta-raharja hingga bermuara pada kondisi gemah-ripah loh-jinawi.
“Maknanya adalah suasana kesempurnaan batin masyarakat Gunungkidul yang membawa keteraturan sekaligus menggambarkan kesejahteraan warga,” tegas Sri Sultan.
Sultan merinci, tatanan hidup yang teratur (tata) akan melahirkan keselarasan (titi), yang kemudian membuahkan ketenteraman lahir dan batin (tentrem). Dari ketenteraman itu, warga dirangsang untuk giat bekerja menghasilkan produk unggulan (karta), sehingga kebutuhan lahiriah dan batiniah masyarakat dapat terpenuhi secara beradab (raharja).
“Jika itu semua terwujud, gambaran gemah-ripah loh-jinawi bukan sekadar mimpi. Semua membentuk pribadi warga yang matang, utuh, dan tangguh,” tambah Raja Keraton Yogyakarta tersebut.
Sinergi Lintas Daerah dan Penguatan Geopark Gunung Sewu
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti, menyampaikan bahwa filosofi “Gayeng Guyub” menjadi simbol pemersatu niat dan langkah seluruh elemen warga. Sedangkan “Waras Ragane” dan “Tentrem Atine” melambangkan doa keselamatan fisik serta kewibawaan jalannya roda pemerintahan.
Dalam kesempatan tersebut, Endah mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Pusat dan Pemda DIY. Ia secara khusus menyoroti pentingnya menjaga kolaborasi antarwilayah, termasuk sinergi dengan pemerintah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya dalam pengembangan kawasan Geopark Gunung Sewu.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi dengan sungguh-sungguh agar potensi alam Geopark Gunung Sewu memberikan nilai tambah serta dampak ekonomi nyata bagi masyarakat,” ujar Endah.
Upacara peringatan HUT ke-196 Gunungkidul berlangsung kental dengan nuansa kebudayaan Mataram Islam. Seluruh peserta dan pejabat mengenakan pakaian adat Jawa, diiringi keagungan pawai bregada, serta penggunaan bahasa Jawa penuh sepanjang prosesi.
Puncak perayaan ditutup dengan tradisi rayahan hasil bumi, sebuah simbolisasi rasa syukur atas anugerah alam Gunungkidul yang melimpah dan dinikmati bersama oleh masyarakat. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar