ANGIN, HUJAN, TANAH HATI, DAN SYUKUR
- account_circle Ustadz Sujarwo
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Teras Malioboro – Mata air tulisan ini bersumber dari perenungan Bu Arum di One Week One Juz. Seijin beliau saya elaborasi dan masak kembali, sesuai gaya tulisan payung peneduh. Tentu saja, tanpa mengurangi sedikitpun bahan-bahan yang telah dipilih dan diolah oleh Bu Arum. Saya hanya menguatkan rasa dan aroma agar lebih menyentuh dan pesan berlabuh.
Ada kalanya kita membaca Al-Qur’an bukan hanya dengan mata, melainkan dengan seluruh pengalaman hidup yang kita punya. Tiba-tiba sebuah ayat yang selama ini terasa biasa saja mendadak berbicara sangat dekat kepada jiwa. Begitulah ketika membaca firman Allah tentang angin, awan, hujan, dan tanah dalam Surah Al-A’raf ayat 57-58.
Allah mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum turunnya hujan. Angin datang mendahului rahmat. Ia hadir lebih dahulu sebelum air menyentuh bumi yang kering. Bukankah kehidupan kita sering berjalan dengan cara yang serupa? Sebelum datang kemudahan, sering kali terlebih dahulu hadir kegelisahan. Sebelum datang jawaban, terlebih dahulu muncul pertanyaan. Sebelum datang pertolongan, terlebih dahulu kita dipertemukan dengan ujian.
Karena itu, tidak semua angin harus dimusuhi. Sebagian angin datang membawa pesan yang belum kita pahami. Sebagian kegelisahan datang membawa hikmah yang belum kita mengerti. Dan sebagian ujian datang membawa rahmat yang masih tersembunyi. Orang yang bersyukur tidak terburu-buru mengutuk angin yang berembus dalam hidupnya. Ia belajar percaya bahwa Allah tidak sedang menjauhinya, melainkan sedang mempersiapkan sesuatu yang belum tampak oleh pandangannya.
Kemudian Allah menggiring awan-awan yang berat menuju tanah yang mati. Hujan pun diturunkan. Bumi yang semula retak dan gersang perlahan berubah hijau. Benih-benih yang lama tertidur mulai terbangun dari tidurnya. Pemandangan alam ini sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu tentang diri kita. Sebab hati manusia pun mengenal musim-musimnya sendiri. Ada masa ketika hati terasa subur dan mudah menerima nasihat. Ada pula masa ketika ia terasa kering, hambar, dan kehilangan gairah.
Pada saat-saat seperti itu, Allah tidak selalu mengirimkan hujan dalam bentuk yang kita sukai. Kadang Dia mengirimkannya melalui nasihat yang menegur. Kadang melalui kehilangan yang menyadarkan. Kadang melalui perjumpaan yang menguatkan. Bahkan tidak jarang melalui kesulitan yang semula kita sangka sebagai beban kehidupan. Namun bagi hati yang bersyukur, setiap peristiwa adalah kemungkinan datangnya rahmat. Sebab ia percaya bahwa Allah dapat menumbuhkan bunga bahkan dari tanah yang pernah terluka.
Menariknya, hujan yang turun itu sama, tetapi hasilnya berbeda. Allah berfirman bahwa tanah yang baik akan menumbuhkan tanaman-tanamannya dengan izin Tuhan, sedangkan tanah yang buruk hanya menumbuhkan tanaman yang merana. Di sinilah letak rahasia yang sangat dalam. Persoalan terbesar sering kali bukan kurangnya hujan, melainkan keadaan tanah. Bukan kurangnya nasihat, melainkan kesiapan hati. Bukan kurangnya ilmu, melainkan kurangnya kerendahan diri untuk menerima kebenaran.
Al-Qur’an yang sama dibaca oleh jutaan manusia. Namun ada hati yang menjadi lembut karenanya, dan ada hati yang tetap keras sesudahnya. Ada yang semakin dekat kepada Allah setelah mendengar ayat-Nya, dan ada yang berlalu begitu saja seakan tidak pernah mendengarnya. Bukan karena wahyu yang turun berbeda, melainkan karena tanah tempat wahyu itu jatuh berbeda.
Karena itulah Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang sangat menarik:
كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ
“Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi kaum yang bersyukur.”
Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa tidak semua orang yang melihat hujan akan memahami rahmat. Tidak semua orang yang mengalami ujian akan menemukan hikmah. Tidak semua orang yang membaca ayat akan memperoleh ‘ibrah. Yang mampu menangkap pesan-pesan itu adalah hati yang bersyukur.
Sebab syukur bukan hanya ucapan setelah menerima nikmat. Syukur adalah cara memandang hidup. Ia adalah kesediaan melihat tangan Allah bekerja bahkan ketika kita belum memahami rencana-Nya. Ia adalah kemampuan membaca rahmat di balik ujian, melihat harapan di balik mendung, dan mempercayai adanya hujan bahkan ketika angin baru saja berembus.
Karena itu, ketika membaca ayat tentang tanah yang baik dan tanah yang buruk, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Berapa banyak hujan yang telah Allah turunkan kepadaku?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Sudahkah aku mengolah tanah hatiku agar siap menerima hujan itu?”
Sebab rahmat Allah senantiasa turun dari langit-Nya. Yang sering terlambat bukanlah turunnya hujan, melainkan kesiapan hati untuk menerimanya. Dan barangkali, salah satu tanda bahwa tanah hati mulai menjadi subur adalah ketika kita mampu bersyukur, bukan hanya saat hujan telah turun, tetapi bahkan ketika angin pertama mulai berembus.***
- Penulis: Ustadz Sujarwo






Saat ini belum ada komentar