Breaking News
Trending Tags
Beranda » HEADLINE » ANGIN, HUJAN, TANAH HATI, DAN SYUKUR

ANGIN, HUJAN, TANAH HATI, DAN SYUKUR

  • account_circle Ustadz Sujarwo
  • calendar_month Ming, 14 Jun 2026
  • comment 0 komentar

Teras Malioboro – Mata air tulisan ini bersumber dari perenungan Bu Arum di One Week One Juz. Seijin beliau saya elaborasi dan masak kembali, sesuai gaya tulisan payung peneduh. Tentu saja, tanpa mengurangi sedikitpun bahan-bahan yang telah dipilih dan diolah oleh Bu Arum. Saya hanya menguatkan rasa dan aroma agar lebih menyentuh dan pesan berlabuh.

Ada kalanya kita membaca Al-Qur’an bukan hanya dengan mata, melainkan dengan seluruh pengalaman hidup yang kita punya. Tiba-tiba sebuah ayat yang selama ini terasa biasa saja mendadak berbicara sangat dekat kepada jiwa. Begitulah ketika membaca firman Allah tentang angin, awan, hujan, dan tanah dalam Surah Al-A’raf ayat 57-58.

Allah mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum turunnya hujan. Angin datang mendahului rahmat. Ia hadir lebih dahulu sebelum air menyentuh bumi yang kering. Bukankah kehidupan kita sering berjalan dengan cara yang serupa? Sebelum datang kemudahan, sering kali terlebih dahulu hadir kegelisahan. Sebelum datang jawaban, terlebih dahulu muncul pertanyaan. Sebelum datang pertolongan, terlebih dahulu kita dipertemukan dengan ujian.

Karena itu, tidak semua angin harus dimusuhi. Sebagian angin datang membawa pesan yang belum kita pahami. Sebagian kegelisahan datang membawa hikmah yang belum kita mengerti. Dan sebagian ujian datang membawa rahmat yang masih tersembunyi. Orang yang bersyukur tidak terburu-buru mengutuk angin yang berembus dalam hidupnya. Ia belajar percaya bahwa Allah tidak sedang menjauhinya, melainkan sedang mempersiapkan sesuatu yang belum tampak oleh pandangannya.

Kemudian Allah menggiring awan-awan yang berat menuju tanah yang mati. Hujan pun diturunkan. Bumi yang semula retak dan gersang perlahan berubah hijau. Benih-benih yang lama tertidur mulai terbangun dari tidurnya. Pemandangan alam ini sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu tentang diri kita. Sebab hati manusia pun mengenal musim-musimnya sendiri. Ada masa ketika hati terasa subur dan mudah menerima nasihat. Ada pula masa ketika ia terasa kering, hambar, dan kehilangan gairah.

Pada saat-saat seperti itu, Allah tidak selalu mengirimkan hujan dalam bentuk yang kita sukai. Kadang Dia mengirimkannya melalui nasihat yang menegur. Kadang melalui kehilangan yang menyadarkan. Kadang melalui perjumpaan yang menguatkan. Bahkan tidak jarang melalui kesulitan yang semula kita sangka sebagai beban kehidupan. Namun bagi hati yang bersyukur, setiap peristiwa adalah kemungkinan datangnya rahmat. Sebab ia percaya bahwa Allah dapat menumbuhkan bunga bahkan dari tanah yang pernah terluka.

Menariknya, hujan yang turun itu sama, tetapi hasilnya berbeda. Allah berfirman bahwa tanah yang baik akan menumbuhkan tanaman-tanamannya dengan izin Tuhan, sedangkan tanah yang buruk hanya menumbuhkan tanaman yang merana. Di sinilah letak rahasia yang sangat dalam. Persoalan terbesar sering kali bukan kurangnya hujan, melainkan keadaan tanah. Bukan kurangnya nasihat, melainkan kesiapan hati. Bukan kurangnya ilmu, melainkan kurangnya kerendahan diri untuk menerima kebenaran.

Al-Qur’an yang sama dibaca oleh jutaan manusia. Namun ada hati yang menjadi lembut karenanya, dan ada hati yang tetap keras sesudahnya. Ada yang semakin dekat kepada Allah setelah mendengar ayat-Nya, dan ada yang berlalu begitu saja seakan tidak pernah mendengarnya. Bukan karena wahyu yang turun berbeda, melainkan karena tanah tempat wahyu itu jatuh berbeda.

Karena itulah Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang sangat menarik:

كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ

“Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi kaum yang bersyukur.”

Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa tidak semua orang yang melihat hujan akan memahami rahmat. Tidak semua orang yang mengalami ujian akan menemukan hikmah. Tidak semua orang yang membaca ayat akan memperoleh ‘ibrah. Yang mampu menangkap pesan-pesan itu adalah hati yang bersyukur.

Sebab syukur bukan hanya ucapan setelah menerima nikmat. Syukur adalah cara memandang hidup. Ia adalah kesediaan melihat tangan Allah bekerja bahkan ketika kita belum memahami rencana-Nya. Ia adalah kemampuan membaca rahmat di balik ujian, melihat harapan di balik mendung, dan mempercayai adanya hujan bahkan ketika angin baru saja berembus.

Karena itu, ketika membaca ayat tentang tanah yang baik dan tanah yang buruk, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah, “Berapa banyak hujan yang telah Allah turunkan kepadaku?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Sudahkah aku mengolah tanah hatiku agar siap menerima hujan itu?”

Sebab rahmat Allah senantiasa turun dari langit-Nya. Yang sering terlambat bukanlah turunnya hujan, melainkan kesiapan hati untuk menerimanya. Dan barangkali, salah satu tanda bahwa tanah hati mulai menjadi subur adalah ketika kita mampu bersyukur, bukan hanya saat hujan telah turun, tetapi bahkan ketika angin pertama mulai berembus.***

  • Penulis: Ustadz Sujarwo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alumni SMAN 1 Magelang Dukung Berdirinya Hafidh Asrom World Schools

    Alumni SMAN 1 Magelang Dukung Berdirinya Hafidh Asrom World Schools

    • calendar_month Kam, 2 Apr 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO — Waktu puluhan tahun tak mampu menghapus kedekatan yang pernah terjalin di bangku sekolah. Hal itu terasa begitu nyata dalam reuni dan halal bihalal alumni SMA Negeri 1 Magelang angkatan 1979 yang digelar pada Rabu (1/4/2026) di Sanjaya Room, Asram Edupark, Sleman. Sejak awal kedatangan, suasana akrab langsung tercipta. Eni Yustini selaku tuan […]

  • Lawan Gempuran AI dengan Rasa, JNE Ajak Mahasiswa UII Olah Ide Jadi Karya Otentik

    Lawan Gempuran AI dengan Rasa, JNE Ajak Mahasiswa UII Olah Ide Jadi Karya Otentik

    • calendar_month Sel, 5 Mei 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Di tengah maraknya konten instan berbasis Artificial Intelligence (AI), orisinalitas dan “nyawa” dalam sebuah karya menjadi barang mewah yang kian dicari. Menangkap fenomena ini, JNE menggelar Creative Workshop bertajuk “Think Creative: Dari Ide Jadi Karya Penuh Cerita” di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, Selasa (5/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teatrikal Gedung Sardjito ini […]

  • Sulap Mangrove Jadi Produk Ekonomis di Cilacap

    Sulap Mangrove Jadi Produk Ekonomis di Cilacap

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Hutan mangrove (bakau) seringkali dipandang sebatas kawasan konservasi atau pencegah abrasi. Namun, di Kelurahan Karangtalun, Cilacap Utara, mahasiswa dan mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 37 Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil menyulap komoditas lokal yang melimpah ini menjadi berbagai produk bernilai ekonomis tinggi. Melalui acara bertajuk “Pemanfaatan Mangrove menjadi Produk”, kelompok KKN UNS tidak […]

  • Sulap Sampah Jadi Berkah, Tiga Inovator Sosial dari Jogja hingga Probolinggo Juarai Kompetisi CIMB Niaga

    Sulap Sampah Jadi Berkah, Tiga Inovator Sosial dari Jogja hingga Probolinggo Juarai Kompetisi CIMB Niaga

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Tiga inovator sosial dari Yogyakarta, Pasuruan, dan Probolinggo berhasil “menyulap” barang-barang tak terpakai—mulai dari botol plastik, limbah kayu, hingga kulit kerang—menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Ide cemerlang mereka sukses menyingkirkan lebih dari 500 pendaftar lainnya dan dinobatkan sebagai yang terbaik dalam ajang Community Link #JadiNyata 2025 yang digelar PT Bank CIMB Niaga Tbk. Kompetisi […]

  • Laba Telkomsel Naik 8,3 Persen, Bisnis Digital dan Data Jadi Mesin Pertumbuhan

    Laba Telkomsel Naik 8,3 Persen, Bisnis Digital dan Data Jadi Mesin Pertumbuhan

    • calendar_month Sel, 4 Agu 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–PT Telkomsel mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid sepanjang semester pertama 2026. Perusahaan telekomunikasi digital terbesar di Indonesia itu membukukan laba bersih sebesar Rp10,4 triliun, meningkat 8,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY), ditopang pertumbuhan bisnis digital dan meningkatnya konsumsi layanan data. Kinerja positif tersebut juga tercermin pada pendapatan perusahaan yang […]

  • Orang Lain Menyingkir, Ipda Purnomo Justru Merangkul Ribuan ODGJ Selama 10 Tahun

    Orang Lain Menyingkir, Ipda Purnomo Justru Merangkul Ribuan ODGJ Selama 10 Tahun

    • calendar_month Sel, 29 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Di saat banyak orang memilih menjauh saat melihat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di jalanan, seorang polisi di Lamongan justru mendekat, memeluk, memandikan, dan merawatnya hingga sembuh. Dia adalah Ipda Purnomo. Purnomo adalah anggota Sat Binmas Polres Lamongan yang kini menjabat sebagai Kepala Unit Binpol. Namun, publik lebih mengenalnya lewat kanal YouTube Purnomo Belajar […]

expand_less