MAKNA DAN RAHASIA KISAH-KISAH DALAM AL QURAN (1)
- account_circle Ustadz Sujarwo
- calendar_month Rab, 3 Jun 2026
- comment 0 komentar

Teras Malioboro – Dalam psikologi pendidikan modern, dikenal istilah Narrative Learning atau Pembelajaran Naratif. Proses belajar melalui cerita, pengalaman, kisah, metafora, dan narasi. Bukan belajar sebatas melalui daftar konsep yang mengambang di ruang teori tanpa sempat menyapa realitas manusia.
Guru tidak hanya berkata : “Jadilah orang yang suka menolong sesama agar hidupmu beruntung.” Tapi guru bercerita tentang kisah orang yang suka menolong, kemudian menjadi sukses tersebab memperoleh bantuan dari orang yang pernah ditolongnya. Tujuan sama, tapi emosi, rasa, keterlibatan, dan pemaknaannya berbeda.
Kita tidak perlu heran, sebab manusia merupakan Homo Narrans, yakni makhluk yang memahami dunia melalui cerita. Sudah berlangsung ribuan tahun lamanya. Jauh sebelum sekolah dan universitas mengada. Manusia belajar melalui kisah, legenda, hikayat, dan pengalaman orang tua.
Menariknya, menurut penelitian neurosains, ketika seseorang mendengar penjelasan yang bersifat abstrak, area bahasa cenderung lebih dominan aktif. Sebaliknya, ketika ia mendengar cerita, area emosi, memori, imajinasi, dan berbagai jaringan asosiasi otak ikut terlibat.
Coba bayangkan dan rasakan, andai dari Mimbar ini saya mengatakan, “Kesabaran itu penting.” Mungkin jamaah akan mengangguk mengamini. Namun, hanya sebatas itu, tidak lebih.
Lain halnya, bila saya menceritakan kisah kesabaran Nabi Ya’qub yang kehilangan Yusuf. Bukan sekejap, namun ratusan purnama lamanya. Terpisah dari buah hati belahan jiwa. Beliau menangis hingga matanya memutih, buta. Namun meskipun berduka, hatinya ridha dan lisannya terus mengeja asma Allah. Sementara dari bibirnya terucap kalimat: فَصَبْرٌ جَمِيلٌ “Maka bersabar itu indah.”
Tiba-tiba kesabaran menjadi hidup saat ini, di sini. Kesabaran menjadi gerimis yang pelan-pelan membasahi hati. Di dalamnya, rasa serta emosi kita terhubung dan terkait. Bahkan, sampai-sampai, seolah-olah kita adalah Ya’qub yang bersabar dalam duka tidak bertepi.
Inilah yang disebut dalam Al Quran ‘ibrah. Kisah yang menjadi jembatan kita mampu menyeberang dari dia yang di sana menjadi kita yang di sini. Kisah yang menjadi jembatan kita mampu menyeberang dari informasi dan sejarah, menjadi pelajaran yang berbuah hikmah.
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. 12 : 111)***
- Penulis: Ustadz Sujarwo






Saat ini belum ada komentar