Breaking News
Trending Tags
Beranda » HEADLINE » AI Semakin Canggih, Gita Wiryawan Justru Minta Sekolah Memperkuat Kualitas Manusia

AI Semakin Canggih, Gita Wiryawan Justru Minta Sekolah Memperkuat Kualitas Manusia

  • account_circle Chaidir
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • AI bukan pengganti manusia: Kualitas teknologi sangat dipengaruhi kemampuan kognitif manusia dalam bertanya dan menilai jawaban.

 

  • Tiga atribut generasi masa depan: Gita menekankan pentingnya ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas dalam menghadapi perubahan dunia.

 

  • Guru menjadi kunci: Pendidikan membutuhkan guru berkualitas dan sejahtera agar mampu membentuk generasi yang kreatif, kritis, dan inovatif.

 

TERAS MALIOBORO — Ketika kecerdasan buatan semakin mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik, dunia pendidikan justru menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar yaitu masihkah manusia mampu berpikir lebih baik daripada teknologi yang diciptakannya?

Menteri Perdagangan periode 2011–2014, Gita Wiryawan, melihat tantangan pendidikan Indonesia bukan lagi sekadar bagaimana mencetak siswa dengan nilai akademik tinggi. Pendidikan harus bergerak lebih jauh, yakni membentuk manusia yang memiliki ambisi, imajinasi, dan kemampuan memanfaatkan peluang secara cerdas.

Pesan tersebut disampaikan Gita dalam Talkshow Inspiratif di Auditorium Al Azhar Yogyakarta World School, Kamis (13/8/2026). Talkshow yang dimoderatori pakar pendidikan internasional Dwi A Yuliantoro PhD, itu dihadiri Pendiri AYWS-HAWS Drs HA Hafidh Asrom MM, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, serta sejumlah tokoh pendidikan, kepala sekolah, guru, mahasiswa, siswa, dan pemangku kepentingan pendidikan.

Di hadapan peserta, Gita mengajak dunia pendidikan melihat manusia bukan hanya dari kemampuan menghafal dan menguasai materi, tetapi dari kapasitasnya untuk bertanya, membayangkan, menciptakan, dan mengambil peluang.

AI Tidak Akan Lebih Hebat Jika Manusianya Tidak Mampu Bertanya

Salah satu sorotan utama Gita adalah perkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya teknologi berbasis Large Language Model. Menurut dia, kemampuan AI menghasilkan jawaban yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Pertanyaan yang baik, konteks yang tepat, serta kemampuan mengevaluasi jawaban menjadi faktor penting dalam menentukan hasil interaksi dengan AI.

“Intinya, kualitas halusinasi sangat dipengaruhi kualitas kognitif pengguna,” ujar Gita.

Karena itu, kehadiran AI seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas kemampuan manusia dalam menemukan pengetahuan, mengembangkan gagasan, menciptakan inovasi, sekaligus menyelesaikan persoalan yang semakin kompleks.

Di titik inilah, menurut Gita, pendidikan memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga harus melatih bagaimana seseorang berpikir.

Gita juga menyinggung pentingnya masa pertumbuhan anak dalam membangun kapasitas intelektual. Ketika memasuki usia dewasa, keterbukaan terhadap gagasan baru juga diperlukan agar kekuatan inovasi dapat berjalan berdampingan dengan nilai dan tradisi yang telah diwariskan.

Tiga Bekal yang Harus Ditanamkan Guru

Gita kemudian menggarisbawahi tiga atribut yang menurutnya penting dimiliki generasi muda yakni ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas.

Ambisi menjadi energi yang mendorong seseorang mengejar tujuan. Imajinasi membuat manusia mampu membayangkan sesuatu yang belum pernah diwujudkan. “Tanpa imajinasi, manusia tidak bisa mendarat di bulan,” katanya.

Sementara keberuntungan cerdas bukanlah keberuntungan yang hanya ditunggu.

Gita memberikan gambaran sederhana. Seseorang yang berharap mendapatkan nilai tinggi tanpa belajar, menurut dia, hanya mengandalkan keberuntungan buta. Berbeda dengan orang yang berdoa sekaligus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, seperti belajar di perpustakaan dan memperdalam materi sebelum menghadapi ujian. Itulah yang ia sebut sebagai keberuntungan cerdas.

Ketiga atribut tersebut dinilai semakin relevan karena generasi muda akan menghadapi dunia yang berubah cepat, mulai dari geopolitik, ekonomi, teknologi hingga perubahan iklim.

Jangan Harap Pendidikan Hebat Jika Guru Tidak Sejahtera

Di balik tuntutan besar kepada pendidikan, Gita juga mengingatkan satu persoalan yang tidak boleh diabaikan yaitu guru.

Menurut dia, guru memiliki posisi strategis karena tidak semua anak lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Dalam kondisi tersebut, sekolah dan guru dapat menjadi pintu penting bagi seorang anak untuk membangun kapasitas intelektual dan masa depannya. Namun, Gita menilai kualitas pendidikan juga berkaitan erat dengan kemampuan negara memberikan penghargaan yang layak kepada para pendidik.

Jumlah guru dan dosen di Indonesia yang mencapai jutaan orang, menurut dia, harus diiringi perhatian terhadap kesejahteraan dan sistem kompensasi. “Tanpa adanya reformasi untuk kompensasi guru, sulit bagi kita mendapatkan talenta-talenta terbaik untuk bisa menyuntikkan tiga atribut tersebut,” ujarnya.

Bagi Gita, guru idealnya bukan hanya berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Guru harus mampu menjadi sosok yang menyalakan ambisi, membangkitkan imajinasi, serta mengajarkan bagaimana seseorang memanfaatkan peluang melalui kerja keras dan pengetahuan.

Belajar dari Alexandria hingga Baitul Hikmah

Gita juga membawa peserta menengok perjalanan panjang peradaban manusia. Ia mencontohkan Perpustakaan Alexandria yang pernah menjadi salah satu pusat pengetahuan dunia. Tradisi keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan kemudian ikut mewarnai perkembangan pusat-pusat keilmuan dalam dunia Islam, termasuk Baitul Hikmah pada masa Dinasti Abbasiyah. Dari sejarah tersebut, Gita ingin menunjukkan bahwa peradaban besar tidak tumbuh dari sikap menutup diri.

Kemajuan justru lahir ketika manusia mampu menjaga nilai dan tradisi, tetapi pada saat yang sama bersedia menerima gagasan baru. “Moderasi keterbukaan itu sangat penting. Kita harus bisa menghormati tradisi ortodoksi, tetapi juga merangkul inovasi,” tegasnya.

Bagi Indonesia, kemampuan mengawinkan preservasi dan inovasi menjadi tantangan penting. Pendidikan harus mampu memastikan generasi mendatang tidak berhenti sebagai konsumen teknologi. Lebih dari itu, mereka harus memiliki kapasitas untuk menciptakan gagasan, menghasilkan inovasi, dan bahkan menentukan arah perubahan.

Masa Depan Pendidikan Ada pada Kualitas Manusianya

Talkshow di Auditorium Al Azhar Yogyakarta World School itu pada akhirnya bukan sekadar membahas AI atau perubahan teknologi. Ada pesan yang lebih besar yaitu secepat apa pun teknologi berkembang, kualitas manusia tetap menjadi penentu.

AI mungkin dapat membantu mencari jawaban. Namun, manusia tetap harus mampu menentukan pertanyaan yang tepat, memahami konteks, menguji kebenaran, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menciptakan sesuatu yang bernilai. Karena itu, pendidikan Indonesia membutuhkan lompatan besar.

Bukan hanya untuk menghasilkan manusia yang pintar mengerjakan soal, tetapi generasi yang berani bermimpi, mampu membayangkan masa depan, mau bekerja keras, terbuka terhadap perubahan, dan cerdas membaca peluang.

Jika pendidikan mampu membangun kualitas tersebut, Indonesia tidak sekadar memiliki generasi yang siap menghadapi masa depan. Indonesia juga memiliki generasi yang mampu menciptakan masa depan. (Chaidir)

 

  • Penulis: Chaidir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PT AXA Mandiri Financial Services Buka Puasa Bersama Anak Yatim serta Berbagi Ilmu Literasi Keuangan dan Perlengkapan Sekolah

    PT AXA Mandiri Financial Services Buka Puasa Bersama Anak Yatim serta Berbagi Ilmu Literasi Keuangan dan Perlengkapan Sekolah

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) berbagi berkah di bulan ramadan dengan membagikan 100 paket perlengkapan sekolah dan paket sembako senilai Rp1 juta untuk anak-anak yatim dari Panti Asuhan Nurul Iman dan Yayasan Penyantunan Sosial (Yapensos). Secara simbolis bantuan tersebut diserahkan AXA Mandiri dalam momen buka puasa bersama para anak-anak yatim […]

  • Pasal Nikah Siri di KUHP Baru: Antara Penertiban Administrasi atau Kriminalisasi Hukum Agama?

    Pasal Nikah Siri di KUHP Baru: Antara Penertiban Administrasi atau Kriminalisasi Hukum Agama?

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Ketentuan pidana terkait praktik nikah siri dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional yang baru terus menuai perdebatan sengit. Pakar Hukum Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Khaeruddin Hamsin, Lc., LL.M., Ph.D., memperingatkan bahwa pasal-pasal tersebut berisiko menimbulkan multitafsir dan berbenturan keras dengan hukum yang hidup di masyarakat (living law). Menurut Khaeruddin, pernikahan pada […]

  • Dengar Kritik Masyarakat, Kantor Pertanahan Yogyakarta Siapkan Strategi Layanan “Anti-Ribet” 2026

    Dengar Kritik Masyarakat, Kantor Pertanahan Yogyakarta Siapkan Strategi Layanan “Anti-Ribet” 2026

    • calendar_month Sen, 29 Des 2025
    • 0Komentar

    KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA–Berurusan dengan administrasi pertanahan sering kali dianggap rumit oleh sebagian masyarakat. Namun, Kantor Pertanahan Kota Yogyakarta mencoba mendobrak batasan tersebut dengan membuka diri terhadap kritik dan masukan secara langsung. Melalui langkah transparan ini, pelayanan pertanahan di Kota Gudeg diproyeksikan akan semakin modern, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan warga di tahun mendatang. Kegiatan bertajuk Forum […]

  • Transformasi Olahraga Kampus Dimulai, UII dan Campus League Wujudkan Ekosistem Berkelanjutan

    Transformasi Olahraga Kampus Dimulai, UII dan Campus League Wujudkan Ekosistem Berkelanjutan

    • calendar_month Jum, 8 Mei 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – Wajah olahraga kampus di Indonesia tengah memasuki fase transformasi. Melalui kolaborasi strategis antara Universitas Islam Indonesia (UII) dan Campus League, olahraga mahasiswa kini diarahkan menjadi lebih dari sekadar aktivitas musiman—melainkan ruang pembentukan karakter, mentalitas, dan tanggung jawab sosial. Komitmen tersebut ditegaskan langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid, bersama CEO Campus League, Ryan […]

  • Waspada Bahaya Sisa Obat. IAI Sleman Luncurkan Program “Sleman Resik Obat” Selamatkan Keluarga dan Lingkungan

    Waspada Bahaya Sisa Obat. IAI Sleman Luncurkan Program “Sleman Resik Obat” Selamatkan Keluarga dan Lingkungan

    • calendar_month Ming, 2 Nov 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Praktik membuang sisa obat atau obat kedaluwarsa secara sembarangan terbukti berpotensi membahayakan kesehatan dan merusak lingkungan. Merespons tantangan ini, Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PC IAI) Sleman meluncurkan sebuah program revolusioner bertajuk “Sleman Resik Obat”. Kegiatan peluncuran ini, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, berlangsung di Lapangan Pemda Sleman, […]

  • Kinerja Moncer dan Good Corporate Governance, Segini Target Harga Saham Bank Mandiri

    Kinerja Moncer dan Good Corporate Governance, Segini Target Harga Saham Bank Mandiri

    • calendar_month Rab, 18 Feb 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencetak laba bersih 2025 yang sejalan dengan estimasi, bahkan melampaui konsensus analis. Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp 18,6 triliun pada kuartal IV-2025 (4Q25), melonjak 40% qoq atau 35% yoy. Dengan begitu, laba bersih sepanjang 2025 menjadi Rp 56,3 triliun atau tumbuh 1% yoy. “Perolehan laba […]

expand_less