Breaking News
Trending Tags
Beranda » HEADLINE » AI Semakin Canggih, Gita Wiryawan Justru Minta Sekolah Memperkuat Kualitas Manusia

AI Semakin Canggih, Gita Wiryawan Justru Minta Sekolah Memperkuat Kualitas Manusia

  • account_circle Chaidir
  • calendar_month Jum, 14 Agu 2026
  • comment 0 komentar
  • AI bukan pengganti manusia: Kualitas teknologi sangat dipengaruhi kemampuan kognitif manusia dalam bertanya dan menilai jawaban.

 

  • Tiga atribut generasi masa depan: Gita menekankan pentingnya ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas dalam menghadapi perubahan dunia.

 

  • Guru menjadi kunci: Pendidikan membutuhkan guru berkualitas dan sejahtera agar mampu membentuk generasi yang kreatif, kritis, dan inovatif.

 

TERAS MALIOBORO — Ketika kecerdasan buatan semakin mampu menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik, dunia pendidikan justru menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar yaitu masihkah manusia mampu berpikir lebih baik daripada teknologi yang diciptakannya?

Menteri Perdagangan periode 2011–2014, Gita Wiryawan, melihat tantangan pendidikan Indonesia bukan lagi sekadar bagaimana mencetak siswa dengan nilai akademik tinggi. Pendidikan harus bergerak lebih jauh, yakni membentuk manusia yang memiliki ambisi, imajinasi, dan kemampuan memanfaatkan peluang secara cerdas.

Pesan tersebut disampaikan Gita dalam Talkshow Inspiratif di Auditorium Al Azhar Yogyakarta World School, Kamis (13/8/2026). Talkshow yang dimoderatori pakar pendidikan internasional Dwi A Yuliantoro PhD, itu dihadiri Pendiri AYWS-HAWS Drs HA Hafidh Asrom MM, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, serta sejumlah tokoh pendidikan, kepala sekolah, guru, mahasiswa, siswa, dan pemangku kepentingan pendidikan.

Di hadapan peserta, Gita mengajak dunia pendidikan melihat manusia bukan hanya dari kemampuan menghafal dan menguasai materi, tetapi dari kapasitasnya untuk bertanya, membayangkan, menciptakan, dan mengambil peluang.

AI Tidak Akan Lebih Hebat Jika Manusianya Tidak Mampu Bertanya

Salah satu sorotan utama Gita adalah perkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya teknologi berbasis Large Language Model. Menurut dia, kemampuan AI menghasilkan jawaban yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Pertanyaan yang baik, konteks yang tepat, serta kemampuan mengevaluasi jawaban menjadi faktor penting dalam menentukan hasil interaksi dengan AI.

“Intinya, kualitas halusinasi sangat dipengaruhi kualitas kognitif pengguna,” ujar Gita.

Karena itu, kehadiran AI seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas kemampuan manusia dalam menemukan pengetahuan, mengembangkan gagasan, menciptakan inovasi, sekaligus menyelesaikan persoalan yang semakin kompleks.

Di titik inilah, menurut Gita, pendidikan memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga harus melatih bagaimana seseorang berpikir.

Gita juga menyinggung pentingnya masa pertumbuhan anak dalam membangun kapasitas intelektual. Ketika memasuki usia dewasa, keterbukaan terhadap gagasan baru juga diperlukan agar kekuatan inovasi dapat berjalan berdampingan dengan nilai dan tradisi yang telah diwariskan.

Tiga Bekal yang Harus Ditanamkan Guru

Gita kemudian menggarisbawahi tiga atribut yang menurutnya penting dimiliki generasi muda yakni ambisi, imajinasi, dan keberuntungan cerdas.

Ambisi menjadi energi yang mendorong seseorang mengejar tujuan. Imajinasi membuat manusia mampu membayangkan sesuatu yang belum pernah diwujudkan. “Tanpa imajinasi, manusia tidak bisa mendarat di bulan,” katanya.

Sementara keberuntungan cerdas bukanlah keberuntungan yang hanya ditunggu.

Gita memberikan gambaran sederhana. Seseorang yang berharap mendapatkan nilai tinggi tanpa belajar, menurut dia, hanya mengandalkan keberuntungan buta. Berbeda dengan orang yang berdoa sekaligus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, seperti belajar di perpustakaan dan memperdalam materi sebelum menghadapi ujian. Itulah yang ia sebut sebagai keberuntungan cerdas.

Ketiga atribut tersebut dinilai semakin relevan karena generasi muda akan menghadapi dunia yang berubah cepat, mulai dari geopolitik, ekonomi, teknologi hingga perubahan iklim.

Jangan Harap Pendidikan Hebat Jika Guru Tidak Sejahtera

Di balik tuntutan besar kepada pendidikan, Gita juga mengingatkan satu persoalan yang tidak boleh diabaikan yaitu guru.

Menurut dia, guru memiliki posisi strategis karena tidak semua anak lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Dalam kondisi tersebut, sekolah dan guru dapat menjadi pintu penting bagi seorang anak untuk membangun kapasitas intelektual dan masa depannya. Namun, Gita menilai kualitas pendidikan juga berkaitan erat dengan kemampuan negara memberikan penghargaan yang layak kepada para pendidik.

Jumlah guru dan dosen di Indonesia yang mencapai jutaan orang, menurut dia, harus diiringi perhatian terhadap kesejahteraan dan sistem kompensasi. “Tanpa adanya reformasi untuk kompensasi guru, sulit bagi kita mendapatkan talenta-talenta terbaik untuk bisa menyuntikkan tiga atribut tersebut,” ujarnya.

Bagi Gita, guru idealnya bukan hanya berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Guru harus mampu menjadi sosok yang menyalakan ambisi, membangkitkan imajinasi, serta mengajarkan bagaimana seseorang memanfaatkan peluang melalui kerja keras dan pengetahuan.

Belajar dari Alexandria hingga Baitul Hikmah

Gita juga membawa peserta menengok perjalanan panjang peradaban manusia. Ia mencontohkan Perpustakaan Alexandria yang pernah menjadi salah satu pusat pengetahuan dunia. Tradisi keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan kemudian ikut mewarnai perkembangan pusat-pusat keilmuan dalam dunia Islam, termasuk Baitul Hikmah pada masa Dinasti Abbasiyah. Dari sejarah tersebut, Gita ingin menunjukkan bahwa peradaban besar tidak tumbuh dari sikap menutup diri.

Kemajuan justru lahir ketika manusia mampu menjaga nilai dan tradisi, tetapi pada saat yang sama bersedia menerima gagasan baru. “Moderasi keterbukaan itu sangat penting. Kita harus bisa menghormati tradisi ortodoksi, tetapi juga merangkul inovasi,” tegasnya.

Bagi Indonesia, kemampuan mengawinkan preservasi dan inovasi menjadi tantangan penting. Pendidikan harus mampu memastikan generasi mendatang tidak berhenti sebagai konsumen teknologi. Lebih dari itu, mereka harus memiliki kapasitas untuk menciptakan gagasan, menghasilkan inovasi, dan bahkan menentukan arah perubahan.

Masa Depan Pendidikan Ada pada Kualitas Manusianya

Talkshow di Auditorium Al Azhar Yogyakarta World School itu pada akhirnya bukan sekadar membahas AI atau perubahan teknologi. Ada pesan yang lebih besar yaitu secepat apa pun teknologi berkembang, kualitas manusia tetap menjadi penentu.

AI mungkin dapat membantu mencari jawaban. Namun, manusia tetap harus mampu menentukan pertanyaan yang tepat, memahami konteks, menguji kebenaran, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menciptakan sesuatu yang bernilai. Karena itu, pendidikan Indonesia membutuhkan lompatan besar.

Bukan hanya untuk menghasilkan manusia yang pintar mengerjakan soal, tetapi generasi yang berani bermimpi, mampu membayangkan masa depan, mau bekerja keras, terbuka terhadap perubahan, dan cerdas membaca peluang.

Jika pendidikan mampu membangun kualitas tersebut, Indonesia tidak sekadar memiliki generasi yang siap menghadapi masa depan. Indonesia juga memiliki generasi yang mampu menciptakan masa depan. (Chaidir)

 

  • Penulis: Chaidir

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Blak Blakan, Pemkab Badung Beberkan Strategi Pengelolaan Pariwisata kepada Tim FE UWM

    Blak Blakan, Pemkab Badung Beberkan Strategi Pengelolaan Pariwisata kepada Tim FE UWM

    • calendar_month Kam, 13 Nov 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO—Perkembangan dan keberhasilan Bali dalam mengelola pariwisata, mendapat pengakuan luas. Pulau Dewata dikenal sebagai wilayah tujuan wisata utama di Indonesia, bahkan dunia. Hal inilah yang mendorong Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram Yogyakarta melakukan kunjungan industri ke Dinas Pariwisata Kabupaten Badung pada 12 November 2025. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Fakultas Ekonomi untuk mendekatkan […]

  • Gebrakan AI di Kota Pelajar, Telkom dan Google Sulap Pendidikan Yogyakarta Jadi Berstandar Global

    Gebrakan AI di Kota Pelajar, Telkom dan Google Sulap Pendidikan Yogyakarta Jadi Berstandar Global

    • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Wajah pendidikan di Yogyakarta bersiap memasuki era baru yang lebih cerdas. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) bersinergi dengan Google Indonesia memperkenalkan revolusi digitalisasi pendidikan berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui gelaran “Shaping the Future of Learning” di Yogyakarta, 3 Februari 2026. Kolaborasi ini menegaskan peran Telkom yang kini bertransformasi menjadi digital transformation enabler. Tidak […]

  • Warga Jogja Kaget, Dini Hari Hamzah Batik Malioboro Terbakar

    Warga Jogja Kaget, Dini Hari Hamzah Batik Malioboro Terbakar

    • calendar_month Ming, 27 Sep 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Kebakaran Hamzah Batik Malioboro kembali terjadi. Pusat oleh-oleh terbesar di Yogyakarta yang berada tepat di depan Pasar Beringharjo itu dilalap api besar pada Senin dini hari, 28 September 2026 sekitar pukul 01.30 WIB. Peristiwa kebakaran Hamzah Batik Malioboro hari ini mengejutkan warga dan wisatawan yang sedang berada di kawasan Malioboro. Kobaran api terlihat membesar […]

  • BTN Sulap Kartu Alumni UPV Veteran Yogyakarta Jadi Kartu Debit, Transaksi dan Iuran Dalam Satu Genggaman

    BTN Sulap Kartu Alumni UPV Veteran Yogyakarta Jadi Kartu Debit, Transaksi dan Iuran Dalam Satu Genggaman

    • calendar_month Ming, 26 Jul 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Kartu Alumni UPN Veteran Yogyakarta kini tak lagi sekadar menjadi identitas bagi para lulusannya. Melalui kolaborasi dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, kartu alumni tersebut bertransformasi menjadi kartu debit yang dapat digunakan untuk berbagai transaksi keuangan. Inovasi ini menjadi langkah baru dalam membangun ekosistem layanan keuangan digital yang terintegrasi di lingkungan […]

  • Lebah atau Lalat?

    Lebah atau Lalat?

    • calendar_month Ming, 8 Mar 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO – Lebah mencari-cari, melihat-lihat, dan selalu mampu menemukan kembang dan bahan-bahan pilihan. Bahkan, yang terselip di rimbun dedaunan dan pepohonan. Sebaliknya, lalat selalu melihat-lihat, mencari-cari, dan menemukan sampah, kotoran, dan sesuatu yang berbau busuk. Bahkan di tumpukan barang-barang dan sesuatu yang baik dan berbau harum sekalipun. Pada lalat dan lebah, hal tersebut merupakan […]

  • Inovasi Buku Pop-Up Berbasis RFID Antar Siswa SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta ke Final FIKSI Nasional

    Inovasi Buku Pop-Up Berbasis RFID Antar Siswa SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta ke Final FIKSI Nasional

    • calendar_month Sel, 21 Okt 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO — Dua siswa SMA Islam Al Azhar 9 Yogyakarta, Alwan Rida Bagas Wicaksana (kelas XII Soshum) dan Bilqist Najwa Azzahra (kelas XII Sains Alam), berhasil melangkah ke babak final Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) Nasional 2025, sebuah ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI), Pusat Prestasi Nasional, di […]

expand_less