Film “Pie To Kih”, Komedi Supranatural yang Bikin Peserta Nonton Bareng Terpingkal
- account_circle Warjono
- calendar_month Sab, 24 Okt 2026
- comment 0 komentar

Sutradara Pie To Kih Ito Mavin bersama Dara Sarasvati saat memberikan keterangan ke awak media. (warjono/terasmalioboro.id)
TERAS MALIOBORO–Suasana meriah menyelimuti rangkaian acara nonton bareng (nobar) film Pie To Kih di Yogyakarta pada Jumat sore (23/10/2026). Film bergenre drama komedi supranatural ini sukses mencuri perhatian penonton berkat alur cerita yang segar, akting natural para pemainnya, serta sentuhan budaya lokal yang kental.
Disutradarai oleh Ito Mavin, Pie To Kih bukan sekadar tontonan hiburan biasa. Sutradara yang melejit lewat karya-karya kreatifnya ini, menegaskan bahwa film “Pie To Kih” menjadi kendaraan untuk menyampaikan pesan moral yang mendalam tentang arti proses memantaskan diri.
”Genre drama komedi supranatural ini sebenarnya menjadi kendaraan untuk menyampaikan pesan utama, yaitu bagaimana sebagai manusia memanfaatkan diri untuk mendapatkan apa yang mau,” ujar Ito Mavin di hadapan para penonton dan awak media usai penayangan.
Ia menjelaskan, cerita berfokus pada perjalanan karakter Mukidi. Dalam film ini, Mukidi dikisahkan sempat berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan ambisinya hingga akhirnya kedoknya terbongkar. Titik balik kehidupannya terjadi saat ia bertemu dengan sosok makhluk astral bernama Sukma, yang diperankan secara memukau oleh Dara Sarasvati. Pertemuan itu membawa mereka pada proses refleksi diri, di mana Sukma yang memiliki latar belakang kelam membantu Mukidi menemukan jati diri baru, sementara Sukma sendiri belajar arti ketulusan serta memaafkan.
Totalitas Tantangan Akting Para Pemain
Kehadiran Pie To Kih memberikan tantangan tersendiri bagi para pemerannya, termasuk aktris populer Dara Sarasvati. Menjalani debut pertamanya memerankan makhluk astral sebagai Sukma, Dara mengaku harus bekerja keras menaklukkan gestur tubuh yang bertolak belakang dengan karakter aslinya yang ekspresif.
”Yang jadi pembeda dengan projek lain, ini kali pertama saya perankan tokoh makhluk astral. Sukma harus lemah lembut, sementara saya aslinya ekspresif. Banyak ngerem sisi emosionalnya karena mengkomunikasikan dialog tidak boleh terkesan emosional atau seperti manusia,” ungkap Dara.
Meski menantang, ia melihat pengalaman ini sebagai pijakan penting untuk meningkatkan keterampilan aktingnya di kancah perfilman nasional.
Kisah inspiratif juga datang dari Heri Chandra, kreator konten di balik sosok Mukidi. Berawal dari memproduksi konten mandiri selama tiga tahun dari nol tanpa bayaran, Heri akhirnya mendapat tawaran emas untuk memerankan Mukidi. Sempat dilanda rasa takut lantaran belum pernah berakting di layar lebar, Heri akhirnya memantapkan diri setelah membaca naskah yang dinilai sangat dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
”Script-nya ceritanya relate dengan kehidupan dan ada humornya. Saya merasa cocok, ya akhirnya saya jalani. Seterusnya saya akan serius di dunia film,” kata Heri penuh antusias.
Senada dengan Heri, aktor senior Marwoto yang memerankan tokoh Pak Gino turut melontarkan pujian tinggi terhadap detail penyutradaraan Ito Mavin. Menurutnya, kejelian sutradara dalam membimbing para talent patut diacungi jempol. Ia juga mengapresiasi perjalanan kreatif Woko Channel yang kini berhasil menembus layar lebar dari modal awal ponsel sederhana.

Meet & Greet Film Pie To Kih di Yogyakarta. (warjono/terasmalioboro.id)
Keseruan proses produksi juga dibagikan oleh Gabriela Desta (pemeran Bunga), yang mengaku sering kesulitan menahan tawa saat beradegan komedi bersama Mukidi, meski di beberapa sekuen ia dituntut tampil serius.
Yogyakarta Sebagai Rumah Sineas
Pemilihan Yogyakarta sebagai salah satu kota utama dalam rangkaian roadshow promosi film ini memiliki makna khusus bagi sang sutradara. Dari 17 kota tujuan di Indonesia, Yogyakarta dinilai sebagai rumah sejati bagi para kreator film.
“Bagi kami, industri film memang bergerak di Jakarta, tapi Jogja adalah rumah bagi para sineas. Jadi ke Jogja itu seperti pulang kampung, seperti lebaranlah,” tutur Ito Mavin.
Ia juga menambahkan bahwa pemilihan para pemeran dilakukan secara unik tanpa proses casting konvensional, melainkan melalui pengamatan saksama terhadap rekam jejak mereka, termasuk Dara Sarasvati yang dikenal luas sebagai influencer pegiat budaya. Melalui Pie To Kih, Ito berharap industri perfilman Indonesia semakin berani mengangkat kekayaan budaya daerah sebagai kekuatan utama narasi layar lebar. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar