Breaking News
Trending Tags
Beranda » HEADLINE » HIJRAH DAN KESADARAN BARU MEMAKNAI HIDUP

HIJRAH DAN KESADARAN BARU MEMAKNAI HIDUP

  • account_circle Ustadz Sujarwo
  • calendar_month Sel, 16 Jun 2026
  • comment 0 komentar

Teras Malioboro – Ketika mendengar kata hijrah, kebanyakan orang segera membayangkan berpindah. Ada yang teringat perjalanan Rasulullah dari Makkah menuju Madinah. Ada pula yang membayangkan seseorang yang berpindah lingkungan, pekerjaan, atau bahkan cara hidup. Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam hadis tentang niat yang sangat populer itu, kita akan menemukan sebuah pelajaran yang jauh mendalam dan lebih halus. Ternyata, hijrah yang paling menentukan bukanlah perpindahan badan, melainkan perpindahan orientasi hendak kemana hati tertuju dan berlabuh.

Menariknya, hadis yang sering dijadikan dasar pembahasan tentang niat itu justru berbicara tentang hijrah. Rasulullah bersabda bahwa setiap amal tergantung niatnya, lalu beliau memberi contoh seseorang yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, serta seseorang yang berhijrah demi dunia atau demi seorang wanita yang ingin dinikahinya. Secara lahiriah, keduanya melakukan perjalanan yang sama. Mereka meninggalkan tempat yang sama, menempuh jalan yang sama, bahkan mungkin tiba di tujuan yang sama. Namun di sisi Allah, nilai perjalanan mereka berbeda sejauh langit dan bumi, sejauh timur dan barat.

Di sinilah letak rahasia yang sering terlewatkan. Yang menentukan nilai sebuah perjalanan ternyata bukan sejauh apa kaki melangkah, melainkan ke mana hati mengarah.

Bayangkan dua perahu yang berlayar di lautan yang sama. Angin yang mendorongnya sama. Gelombang yang dihadapinya sama. Bentuk perahunya pun mungkin tidak jauh berbeda. Namun satu perahu mengarah ke pelabuhan yang benar, sementara yang lain bergerak ke arah yang salah. Dari kejauhan keduanya tampak serupa, tetapi arah tujuan membuat keduanya memiliki nasib yang berbeda. Demikian pula manusia. Sering kali yang membedakan bukan aktivitasnya, melainkan orientasinya.

Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama. Sama-sama mengajar, sama-sama berdakwah, sama-sama menulis, sama-sama membangun lembaga sosial, bahkan sama-sama mengeluarkan harta untuk membantu sesama. Dari luar, semua terlihat serupa. Akan tetapi, yang satu sedang berjalan menuju Allah, sedangkan yang lain sedang berjalan menuju dirinya sendiri. Yang satu mencari ridha Allah, sementara yang lain diam-diam mengumpulkan pujian manusia.

Karena itulah para ulama tasawuf memandang hijrah sebagai perjalanan yang tidak pernah selesai. Hijrah fisik memiliki garis akhir. Rasulullah telah sampai di Madinah, dan perjalanan itu pun usai. Namun hijrah hati berlangsung sepanjang usia. Hari ini seseorang berhijrah dari riya’ menuju ikhlas. Besok ia berhijrah dari hasad menuju syukur. Lusa ia berhijrah dari kesombongan menuju kerendahan hati. Setelah itu ia berhijrah lagi dari cinta pujian menuju cinta Allah. Setiap kali seseorang meninggalkan sesuatu yang menjauhkannya dari Allah, pada saat itulah ia sedang berhijrah.

Dalam bahasa psikologi modern, proses ini dapat dipahami sebagai perpindahan pusat motivasi. Semula seseorang bergerak karena dorongan eksternal: ingin dipuji, ingin dihormati, ingin diakui, atau ingin dianggap berhasil. Namun perlahan orientasinya berubah. Ia tetap bekerja, tetap berkarya, tetap berbuat baik, tetapi sumber energinya berbeda. Ia melakukannya karena Allah. Ia melakukannya sebagai bentuk pengabdian. Ia melakukannya karena merasakan makna yang lebih dalam daripada sekadar penghargaan manusia.

Barangkali di sinilah hadis tentang niat terasa semakin relevan dengan kehidupan kita hari ini. Kita hidup di zaman ketika hampir segala sesuatu dapat dipamerkan. Kebaikan dapat dipotret. Amal dapat direkam. Aktivitas sosial dapat diunggah. Bahkan terkadang kesedihan dan air mata pun menemukan panggungnya sendiri di media sosial.

Media sosial sesungguhnya hanyalah alat. Ia seperti pisau yang dapat digunakan untuk memasak atau melukai. Namun di dalamnya tersimpan ujian yang sangat halus: keinginan untuk terus-menerus mendapatkan validasi. Sedikit demi sedikit, manusia dapat terjebak dalam kebiasaan mengukur dirinya melalui jumlah tanda suka, jumlah pengikut, jumlah komentar, atau seberapa sering namanya disebut orang lain.

Awalnya seseorang berbagi ilmu karena ingin memberi manfaat. Lama-kelamaan ia mulai menunggu pujian. Mula-mula ia berdakwah karena Allah. Perlahan ia mulai gelisah ketika respons manusia berkurang. Semula ia ingin menebarkan inspirasi, tetapi tanpa sadar menjadi haus apresiasi. Yang berubah bukan aktivitasnya. Yang berubah adalah arah hatinya.

Validasi memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Ia tidak datang dengan wajah yang menakutkan. Ia tidak mengetuk pintu dengan suara keras. Ia masuk perlahan seperti embun yang meresap ke dalam tanah pada dini hari. Nyaris tidak terdengar. Nyaris tidak terasa. Sampai suatu hari seseorang lebih sibuk memeriksa notifikasi daripada memeriksa niatnya sendiri. Lebih gelisah karena kehilangan perhatian manusia daripada kehilangan kedekatan dengan Allah.

Karena itulah niat harus terus-menerus diperbarui. Hati manusia ibarat kompas yang mudah bergeser oleh pengaruh medan di sekitarnya. Sedikit saja lengah, jarumnya dapat berubah arah tanpa disadari. Seorang pelaut yang bijak tidak cukup memeriksa kompas sekali saja ketika berangkat. Ia memeriksanya berulang kali sepanjang perjalanan. Bukan karena kompas itu rusak, melainkan karena perjalanan yang ditempuh begitu panjang. Demikian pula perjalanan menuju Allah.

Pada akhirnya, yang paling menentukan bukanlah apa yang kita lakukan, melainkan untuk siapa kita melakukannya. Sebab Allah tidak hanya melihat amal yang tampak di permukaan. Allah melihat pusat orientasi yang tersembunyi di dalam dada. Senyum yang lahir dari keikhlasan bisa lebih berat timbangannya daripada pidato panjang yang dipenuhi keinginan untuk dipuji. Sedekah yang tidak diketahui siapa pun bisa lebih bercahaya daripada kebaikan yang sengaja dipertontonkan. Doa yang lirih di tengah malam bisa lebih agung daripada reputasi yang bergema di hadapan manusia.

Mungkin karena itulah hijrah yang paling berat bukanlah menyeberangi gurun pasir, melainkan menyeberangi ego. Bukan meninggalkan kampung halaman, melainkan meninggalkan ketergantungan pada pujian. Bukan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan berpindah dari keinginan untuk dilihat manusia menuju kerinduan untuk dilihat Allah.

Sebab pada akhirnya, jarak antara dunia dan Allah bukanlah jarak langkah kaki, melainkan jarak orientasi hati. Dan ketika hati berpindah dari mencari perhatian manusia menuju mencari ridha Allah, sesungguhnya pada saat itulah hijrah yang paling hakiki telah dimulai. Sebuah hijrah yang tidak selalu tampak oleh mata manusia, tetapi mampu mengubah seluruh arah kehidupan kita.***

  • Penulis: Ustadz Sujarwo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sulap Sampah Jadi Berkah, Tiga Inovator Sosial dari Jogja hingga Probolinggo Juarai Kompetisi CIMB Niaga

    Sulap Sampah Jadi Berkah, Tiga Inovator Sosial dari Jogja hingga Probolinggo Juarai Kompetisi CIMB Niaga

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Tiga inovator sosial dari Yogyakarta, Pasuruan, dan Probolinggo berhasil “menyulap” barang-barang tak terpakai—mulai dari botol plastik, limbah kayu, hingga kulit kerang—menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Ide cemerlang mereka sukses menyingkirkan lebih dari 500 pendaftar lainnya dan dinobatkan sebagai yang terbaik dalam ajang Community Link #JadiNyata 2025 yang digelar PT Bank CIMB Niaga Tbk. Kompetisi […]

  • Sam Sianata, Sang Maestro Multi-Dimensi yang Menjahit Pesan Lingkungan dalam Karya Kelas Sultan

    Sam Sianata, Sang Maestro Multi-Dimensi yang Menjahit Pesan Lingkungan dalam Karya Kelas Sultan

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Di tengah hiruk-pikuk industri seni yang makin kompetitif, muncul satu nama yang belakangan menjadi desas-desus hangat di kalangan kolektor papan atas: Sam Sianata. Seniman yang dikenal eksentrik, visioner, dan spiritual ini menghadirkan karya yang tidak hanya dipandang, tetapi dihayati—karya yang merayakan keindahan sambil mengingatkan manusia tentang tanggung jawab ekologisnya. Di Bali, tempat banyak maestro […]

  • Ditemukan Setelah 17 Hari, Jenazah Pendaki Gunung Slamet Masih Utuh di Jurang 20 Meter

    Ditemukan Setelah 17 Hari, Jenazah Pendaki Gunung Slamet Masih Utuh di Jurang 20 Meter

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • 0Komentar

    ​TERAS MALIOBORO–Perjuangan tanpa lelah tim SAR gabungan dalam misi kemanusiaan di Gunung Slamet akhirnya mencapai titik akhir. Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Magelang yang dilaporkan hilang sejak Selasa, 30 Desember 2025, berhasil ditemukan pada Rabu (14/1/2026). ​Ali, siswa kelas 12 SMAN 5 Magelang, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada hari ke-17 pencarian. Penemuan […]

  • Jogja Printing Expo 2026 Jadi Momentum Emas Transformasi Bisnis Kreatif Nasional

    Jogja Printing Expo 2026 Jadi Momentum Emas Transformasi Bisnis Kreatif Nasional

    • calendar_month Rab, 8 Apr 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–Di tengah gempuran digitalisasi yang kian masif, industri percetakan justru menunjukkan taringnya sebagai tulang punggung ekonomi kreatif. Pembukaan Jogja Printing Expo 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Rabu (8/4/2026), menjadi bukti nyata bahwa sektor grafika bukan hanya bertahan, melainkan sedang melakukan lompatan besar menuju industri berbasis teknologi tinggi. Pameran ini kini menjadi titik temu […]

  • Bahagia Itu Sederhana #1

    Bahagia Itu Sederhana #1

    • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO. Belum lama ini, saya melihat di medsos tentang kebahagiaan dua gadis tunarungu karena diterima bekerja. Hal itu, mengingatkan banyak pertemuan saya dengan pagi dan tawa anak-anak tuna netra yang berjalan dengan tongkat di tangan menuju sekolah. Murid sekolah inklusif Man 2 Sleman Jogja. Saya malu dalam diam. Karena menyadari bahwa bahagia itu sederhana, […]

  • IDM Guyur 3.000 Paket Sembako untuk Warga Borobudur hingga Prambanan

    IDM Guyur 3.000 Paket Sembako untuk Warga Borobudur hingga Prambanan

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • 0Komentar

    TERAS MALIOBORO–InJourney Destination Management (IDM) mempertegas komitmen sosialnya dengan menyalurkan 3.000 paket sembako bagi keluarga pra-sejahtera di sekitar kawasan Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Jumat (6/3/2026). Aksi nyata bertajuk “Bersama Ciptakan Ramadan Penuh Makna” ini bertujuan meringankan beban ekonomi masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara pengelola destinasi wisata dengan warga lokal. Direktur Utama InJourney Destination […]

expand_less