ANTARA ZIKIR DAN TASBIH (2)
- account_circle Ustadz Sujarwo
- calendar_month Sen, 22 Jun 2026
- comment 0 komentar

Teras Malioboro – Terkadang, masalah terbesar kita bukanlah kemiskinan. Bukan pula penyakit atau kehilangan. Masalah terbesar kita adalah perasaan bahwa kita sedang berjalan sendirian. Dalam keramaian kita merasa sepi. Di tengah keluarga, kita merasa tidak dipahami. Di tengah berbagai aktivitas, kita merasa seperti pengembara yang kehilangan arah untuk menepi.
Pada saat-saat demikian, yang paling dirindukan hati sesungguhnya bukan jawaban, melainkan kehadiran.
Seperti anak-anak kita sewaktu masih kecil. Ia terbangun di tengah malam karena suara petir. Ia tidak memahami apa itu awan, kilat, atau badai. Ia tidak membutuhkan penjelasan ilmiah sama sekali. Yang ia cari hanyalah kehangatan pelukan kita. Begitu menemukan pelukan yang dia kenal, ketakutannya perlahan mereda. Badai di luar mungkin masih sama, tetapi hatinya telah berbeda. Bukan karena masalahnya hilang, melainkan karena ia tidak lagi merasa sendirian. Ia merasakan kedekatan, keintiman, dan kehangatan.
Inilah salah satu rahasia zikir. Ketika Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. 13 : 28)
Ketenangan hati, lahir bukan semata-mata karena kata-kata yang diucapkan. Melainkan karena hadirnya Allah dalam kesadaran. Zikir adalah pulangnya hati dari keterasingan. Ia mengobati luka yang sering tidak terlihat, yaitu luka merasa kesepian. Ia menyalakan kembali cahaya ingatan bahwa di balik segala peristiwa ada Allah yang melihat, mendengar, menjaga, mengiringi, dan penuh kasih sayang.
Namun perjalanan hati ternyata tidak berhenti di sana. Ada luka lain yang lebih halus dan lebih tersembunyi. Bukan lagi perasaan merasa sendiri, melainkan keraguan. Bukan lagi pertanyaan, “Apakah Allah bersamaku?” melainkan pertanyaan, “Mengapa Allah menakdirkan ini kepadaku?” Di sinilah manusia mulai memasuki wilayah prasangka.
Tidak sedikit orang yang masih berzikir, tetapi diam-diam mulai meragukan ketetapan Tuhan. Mereka masih berdoa, tetapi mulai mempertanyakan cinta dari Allah yang Maha Rahman. Mereka masih menyebut nama Allah, tetapi di dalam hatinya tumbuh kegelisahan yang berasal dari ketidakmengertian. Ketika harapan tertunda, ketika doa belum berbuah nyata, ketika jalan hidup berbelok ke arah yang tidak direncanakan, hati perlahan diselimuti kabut pertanyaan.
Pada titik tersebut, tasbih datang sebagai cahaya kedua. Jika zikir menghadirkan Allah, maka tasbih membersihkan pandangan tentang Allah. Ketika seorang hamba mengucapkan:
سُبْحَانَ اللَّهِ
ia sesungguhnya sedang berkata kepada dirinya sendiri, “Allah tidak mungkin keliru. Allah tidak mungkin zalim. Allah tidak mungkin kurang kasih sayang. Yang terbatas adalah penglihatanku, bukan kebijaksanaan-Nya. Yang bermasalah adalah cara pandang dan prasangkaku, bukan ketetapan dan keputusan-Nya.”
Bayangkan seseorang sedang berlayar di tengah lautan saat kabut tebal turun menutupi pandangan. Mercusuar masih berdiri di tempat dengan setia. Cahaya masih memancar sebagaimana biasa. Yang berubah bukanlah mercusuarnya, melainkan kemampuan mata untuk melihat. Dalam banyak keadaan, demikian pula hubungan manusia dengan Allah. Allah tidak berubah. Kasih sayang-Nya tidak berkurang. Kebijaksanaan-Nya tidak melemah. Yang sering berubah adalah cara kita memandang-Nya. Dan tasbih hadir untuk membersihkannya.
Karena itulah Nabi Yunus ketika berada dalam gelapnya perut ikan tidak memulai dengan keluhan. Beliau tidak memulai dengan pertanyaan. Beliau tidak memulai dengan tuntutan. Kalimat yang pertama kali keluar dari lisannya adalah:
سُبْحَانَكَ
“Maha Suci Engkau.”
Seolah-olah sebelum mencari jalan keluar, beliau terlebih dahulu membersihkan cara pandangnya. Sebelum memohon pertolongan, beliau terlebih dahulu menegaskan bahwa tidak ada yang salah pada Tuhan yang mengatur kehidupan.
Mungkin begitulah sebabnya zikir dan tasbih selalu berjalan beriringan. Zikir menjaga hati agar tidak tenggelam dalam kesepian. Tasbih menjaga hati agar tidak tenggelam dalam prasangka. Zikir mengingatkan bahwa Allah hadir. Tasbih mengingatkan bahwa Allah sempurna. Zikir menumbuhkan kedekatan. Tasbih menumbuhkan kepercayaan.
Dan ketenangan yang sejati lahir ketika keduanya bertemu. Ketika seorang hamba tidak hanya merasa bahwa Allah bersamanya, tetapi juga yakin bahwa Allah tidak pernah salah dalam mengatur hidupnya. Pada saat itulah badai mungkin masih berhembus, ombak mungkin masih bergulung, dan jalan mungkin masih berliku. Namun hati tetap mampu beristirahat dalam damai. Sebab ia tidak hanya menemukan kehadiran Tuhan, tetapi juga menemukan kepercayaan kepada Tuhan.
Mungkin karena itu, zikir adalah penawar bagi hati yang merasa terasing, sedangkan tasbih adalah penawar bagi hati yang mulai meragukan. Dan manusia memerlukan keduanya. Sebab dalam perjalanan hidup, ada hari-hari ketika kita membutuhkan pelukan-Nya, dan ada hari-hari ketika kita membutuhkan hikmah-Nya.***
- Penulis: Ustadz Sujarwo






Saat ini belum ada komentar