Menembus Ruang Sunyi, Festival Pertunjukan Puisi 2026 Membuka Jalan Baru Seni Pertunjukan
- account_circle Warjono
- calendar_month 17 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Festival Pertunjukan Puisi Jateng dan DIY 2026 melahirkan juara dari Teater Dengung di Temanggung. (istimewa)
TERAS MALIOBORO–Apa jadinya jika puisi tidak hanya dibaca, tetapi dimainkan, digerakkan, ditubuhkan, dan dihadirkan sebagai sebuah pertunjukan? Pertanyaan itu menemukan jawabannya di panggung Gedung Societed Militaire, Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
Di tempat itu, Festival Pertunjukan Puisi Jateng dan DIY 2026 mempertemukan 10 finalis dari berbagai daerah untuk membuktikan bahwa puisi bisa memiliki wajah lain ketika dibawa ke atas panggung.
Teater Dengung dari Temanggung akhirnya keluar sebagai pemenang. Kurnia Setya Wulansari, pelakon tunggal yang membawa nama kelompok tersebut, merebut Juara 1 dengan nilai 989 melalui pertunjukan “Shinta Kepada Rama”, yang diadaptasi dari buku kumpulan puisi Apa Sumpahmu?! karya penyair Dhenok Kristianti.
Namun kemenangan Teater Dengung bukan sekadar soal angka. Penampilan Kurnia memperlihatkan bagaimana sebuah puisi dapat diterjemahkan menjadi bahasa panggung tanpa kehilangan roh teksnya.
Kain merah sepanjang sekitar enam meter menjadi salah satu elemen utama pertunjukannya. Kain tersebut tidak sekadar menjadi properti, tetapi bergerak bersama tubuh Kurnia, menyatu dengan gestur, ekspresi, gerak tari, serta kekuatan vokalnya.
Hasilnya adalah pertunjukan yang membuat puisi tidak hanya didengar, tetapi juga dilihat.
“Saya disutradarai oleh suami saya sendiri,” kata Kurnia seusai tampil.
Guru SD yang juga mengajar senam dan teater di Ngadirejo, Temanggung, itu bukan pendatang baru dalam dunia puisi pertunjukan. Ia sebelumnya pernah menjadi Juara 1 Lomba Puisi Nasional Cok Sawitri 2024 kategori Lomba Video Art Puisi di Denpasar, Bali.
Ketika Puisi Keluar dari Ruang Sunyi
Gagasan besar festival ini sebenarnya jauh lebih luas daripada sebuah kompetisi. Ada upaya untuk mengubah cara masyarakat menikmati puisi. Selama ini puisi lebih sering hadir melalui pembacaan, musikalisasi, atau dramatisasi. Festival di Yogyakarta tersebut mencoba menawarkan kemungkinan lain: teks puisi tetap menjadi pijakan, tetapi tubuh, suara, gestur, properti, dan panggung ikut bekerja untuk menyampaikan maknanya.
Dhenok Kristianti, penyair yang puisinya menjadi bahan utama festival, menyambut eksperimen tersebut.
“Saya senang bahwa puisi saya dipakai untuk percobaan di Jogja untuk festival pertunjukan puisi. Karena pertunjukan puisi ini tampaknya belum membudaya,” ujar Dhenok.
Menurutnya, festival ini berbeda karena peserta tidak sekadar mengubah puisi menjadi drama. Mereka ditantang mempertahankan teks puisi sambil mencari cara agar karya tersebut memiliki daya pikat ketika dipanggungkan.
“Yang sekarang benar-benar memakai naskah puisi yang ada dengan bagaimana menampilkan nilai plus-plus. Sehingga puisi dapat dinikmati dengan baik oleh penonton,” katanya.
Dhenok mengatakan puisi-puisinya memang ditulis dengan kemungkinan untuk dinikmati banyak orang. Buku Apa Sumpahmu?! yang menjadi sumber karya para peserta banyak mengambil dunia Ramayana, Mahabharata, dan Bali.
“Puisi-puisi saya cenderung enak dibaca. Bukan semacam puisi kamar yang bisa dinikmati di ruang tertutup untuk dinikmati sendiri, tetapi puisi saya ciptakan untuk bisa dinikmati banyak orang,” tutur Dhenok.
Putri Suastini Koster yang hadir atas undangan Dhenok juga membawa semangat yang sama. Bersama kelompok lima perempuan, ia membawakan “Sumpah Kumbakarna” tanpa ilustrasi musik.
Menurut Putri, kekuatan pertunjukan puisi justru dapat lahir dari kemampuan pembaca menghidupkan teks melalui ekspresi dan penghayatan.
“Mengikuti semangat dari festival ini, agar pembacaan puisi jadi salah satu seni pertunjukan yang enak ditonton,” ujar Putri.
Ia berharap puisi tidak berhenti sebagai aktivitas membaca yang hanya dinikmati kalangan tertentu.
“Tidak hanya sekadar membaca puisi yang membosankan. Syukur-syukur kalau pembacanya ekspresif bisa berteatrikal. Menjiwai kalimat-kalimatnya. Sehingga enak bagi penonton,” katanya.
Putri bahkan membayangkan pembacaan puisi bisa berkembang menjadi bagian dari berbagai peristiwa budaya dan sosial.
“Ke depan bisa jadi bagian dari seni pertunjukan,” ujarnya.
Menurut Putri, tantangan terbesar puisi mungkin bukan terletak pada puisinya, melainkan pada bagaimana karya tersebut dipertemukan dengan penonton. Jika selama ini pembacaan puisi identik dengan ruangan tenang dan audiens yang sudah akrab dengan sastra, festival semacam ini mencoba membuka pintu yang lebih lebar.
Puisi bisa hadir di panggung. Puisi bisa bergerak. Puisi bisa menjadi tontonan. Dan yang paling penting, puisi tetap dapat berbicara melalui kekuatan kata.
Menghidupkan Kembali Tradisi Sastra
Gagasan tersebut mendapat konteks lebih luas ketika Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Guru Besar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, membuka festival. Menurut Yoseph, Yogyakarta mempunyai posisi penting dalam sejarah perkembangan kesenian dan kesusastraan Indonesia. Dari kota ini lahir berbagai tokoh, komunitas, dan gerakan yang ikut membentuk lanskap kebudayaan nasional.
Ia menyinggung sejarah Bengkel Teater yang didirikan WS Rendra pada 1967 sebagai salah satu contoh penting.
Festival Pertunjukan Puisi Jateng dan DIY 2026, menurut Yoseph, dapat dibaca sebagai bagian dari upaya meneruskan tradisi tersebut dalam bentuk yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Tahun ini Dhenok Kristiyanti menghembuskan semangat roh kesusasteraan dengan festival puisi. Ini melanjutkan tradisi WS Rendra,” ujar Yoseph.
Harapannya, festival tidak berhenti sebagai kegiatan perdana. Ia ingin panggung semacam ini dapat terus berlanjut dan menjadi ruang bagi generasi baru untuk menemukan cara baru dalam menghidupkan sastra.
Dari 10 finalis, Teater Dengung akhirnya menempati posisi teratas dengan nilai 989. Megafauna Art Collective menjadi Juara 2 dengan nilai 957, sedangkan Monggang Film meraih Juara 3 dengan nilai 952. Sementara itu, Kiai Banteng ditetapkan sebagai peserta favorit penonton.
Dewan juri memberikan perhatian pada tiga wilayah penilaian, yakni keaktoran, pemanggungan dan kreativitas, serta pemahaman terhadap puisi.
Landung Simatupang, yang menilai bidang keaktoran, menekankan pentingnya vokal sebagai sarana utama menyampaikan puisi. Intonasi, penekanan kata dan kalimat, gestur, mimik, serta ekspresi menjadi bagian yang menentukan.
Dhenok memberi catatan khusus mengenai inovasi terhadap teks. Menurutnya, kreativitas bukan berarti peserta bebas menambahkan kata atau kalimat yang justru menghilangkan kekuatan puisi.
“Ada yang mungkin maksudnya membuat inovasi, tetapi justru merusak dengan tambahan kata dan kalimat yang merusak puisi itu sendiri. Jadi peserta harus percaya dulu dengan penyair, bahwa penyair itu tidak main-main dengan kata-kata dalam puisi,” katanya.
Sementara Tortor mengingatkan peserta agar unsur visual, termasuk kostum, tidak mengalahkan atau merusak puisi yang sedang dipanggungkan.
Catatan-catatan tersebut menunjukkan bahwa festival ini sebenarnya sedang menguji satu hal penting: bagaimana menjadikan puisi sebagai pertunjukan tanpa membuat puisi kehilangan dirinya.
Teater Dengung berhasil menemukan jawabannya melalui tubuh, kain merah, suara, gerak, dan penghayatan Kurnia Setya Wulansari.
Juara pertama mendapatkan hadiah Rp7 juta, Juara 2 Rp5 juta, dan Juara 3 Rp3 juta. Para finalis lainnya masing-masing memperoleh Rp1 juta. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar