36 Gol Alisya Natalia Antar SD Tarakanita Bumijo Juara MilkLife Soccer Challenge
- account_circle Chaidir
- calendar_month Ming, 20 Sep 2026
- comment 0 komentar

Alisya Natalia Bandari dari SD Tarakanita Bumijo mencetak 36 gol
- Afita Nur Inderasari dari SDN Kalasan 1 meraih penghargaan Best Player KU 12 meski timnya menjadi runner-up.
- Alisya Natalia Bandari dari SD Tarakanita Bumijo mencetak 36 gol, menjadi Top Skor KU 10, dan membantu timnya meraih juara.
- Keduanya menunjukkan potensi talenta sepak bola putri usia dini yang tumbuh melalui latihan, dukungan keluarga, sekolah, dan kompetisi.
TERAS MALIOBORO – Satu pulang membawa trofi pemain terbaik, satu lainnya mengangkat trofi juara bersama timnya. Dari final MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Yogyakarta Seri 1 2026–2027 di Stadion Tridadi, Sleman, Minggu (20/9), dua pemain muda menunjukkan kilau masing-masing.
Mereka adalah Afita Nur Inderasari, pemain SDN Kalasan 1, dan Alisya Natalia Bandari, pemain SD Tarakanita Bumijo. Usia mereka masih belia, tetapi penampilan di lapangan memperlihatkan keberanian, kerja keras, dan semangat berkompetisi yang menjadi modal penting dalam perjalanan sepak bola putri usia dini.
Afita harus menerima kenyataan timnya belum berhasil menjadi juara. SDN Kalasan 1 menempati posisi runner-up setelah perjalanan panjang hingga partai puncak. Namun, hasil tersebut tidak membuat kepulangannya dari Stadion Tridadi tanpa penghargaan. Afita justru dinobatkan sebagai Best Player KU 12.
Penghargaan itu membuat pemain kelas 6 tersebut terkejut sekaligus bahagia. Ia mengaku tidak menyangka latihan yang dijalaninya secara rutin berbuah pengakuan sebagai pemain terbaik. “Sejujurnya saya tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan Best Player. Makanya ketika tahu saya dapat ini, senang banget karena ini hasil dari perjuangan keras saya latihan tiga kali seminggu,” kata Afita.
Bagi Afita, trofi tersebut bukan akhir perjalanan. Ia masih ingin meningkatkan kemampuan dan mendapatkan kesempatan bermain di level kompetisi yang lebih tinggi. “Saya belum puas dan masih ingin terus berproses lagi. Setelah ini semoga bisa terpilih ikut MLSC All-Stars dan lanjut ke Hydroplus Soccer League supaya nantinya bisa masuk tim nasional,” ujarnya.
Pelatih SDN Kalasan 1, Muhammad Arifin, menilai pencapaian timnya di partai final sudah sesuai dengan target. Ia juga melihat materi pemain yang dimiliki cukup kompetitif untuk bersaing memperebutkan gelar.
BACA JUGA :
MLSC Yogyakarta Seri 1 2026–2027: Sapen Kembali Juara, Tarakanita Bumijo I Ukir Sejarah
Dari MLSC Yogyakarta, Satoru Mochizuki Melihat Masa Depan Sepak Bola Putri Indonesia
Menurut Arifin, dukungan orang tua, sekolah, suporter, dan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola turut memberi energi bagi tim selama kompetisi. “Kalau dari segi materi pemain, tim kami sangat layak juara. Dukungan dari luar, suporter, dan semua stakeholder sepak bola Jogja juga yakin kami bisa juara. Tetapi, keberuntungan memang tidak berpihak di final,” ujarnya.
Arifin tidak ingin hasil tersebut menjadi kekecewaan berkepanjangan. Ia justru meminta anak-anak asuhnya menjadikan pengalaman di final sebagai bekal menghadapi kompetisi berikutnya. “Bagi saya, hasil hari ini bukan masalah karena yang penting anak-anak tetap semangat untuk latihan lebih keras lagi ke depan. Masih ada Seri 2 dan ada tahun-tahun berikutnya,” katanya.
Alisya dan 36 Gol
Di sisi lain, kisah berbeda datang dari kubu SD Tarakanita Bumijo. Jika Afita membawa pulang penghargaan individu setelah timnya menjadi runner-up, Alisya Natalia Bandari merayakan dua pencapaian sekaligus: menjadi Top Skor KU 10 dan membantu timnya meraih gelar juara.
Pemain kelas 4 itu mencetak 36 gol sepanjang turnamen. Catatan tersebut menjadi gambaran betapa besar kontribusinya bagi perjalanan SD Tarakanita Bumijo hingga mencapai podium tertinggi.
Wajah bahagia Alisya terlihat seusai pertandingan. Ia mengaku bangga karena berhasil membantu tim meraih gelar juara untuk pertama kalinya. “Saya bangga karena hari ini bisa bantu tim menjadi juara untuk pertama kalinya. Terus juga senang bisa mencetak banyak gol,” tutur Alisya.
Produktivitas tersebut tidak lahir dari proses yang singkat. Alisya menjalani latihan bersama tim sekolah setiap Selasa dan Jumat. Ia juga mengikuti latihan di SSB setiap Senin sore dan Sabtu pagi. Pelatih SD Tarakanita Bumijo, Paulus Sudaryanto, menyebut kedisiplinan menjadi salah satu kunci perkembangan anak asuhnya.
“Hampir tiap hari dia latihan. Triknya bukan karena sepatu baru, tapi karena rajin latihan,” ujar Paulus.
Rutinitas itu kemudian mendapatkan hasil di arena pertandingan. Gol demi gol yang dicetak Alisya ikut membawa SD Tarakanita Bumijo melewati persaingan hingga akhirnya menjadi juara. Namun, bagi Alisya, prestasi di MLSC bukanlah tujuan terakhir. Pemain berusia 10 tahun tersebut menyimpan impian untuk terus berkembang dan suatu hari bisa memperkuat Tim Nasional Indonesia.
Ia juga menyebut dukungan orang tua, pelatih, dan guru sebagai bagian penting dalam perjalanannya menekuni sepak bola. “Terima kasih kepada orang tua, pelatih, dan guru saya yang sudah mendukung saya latihan sepakbola. Ini hasil dari latihan giat saya di sekolah dan di SSB,” kata Alisya.
Ia pun ingin terus berlatih agar kemampuannya semakin berkembang. “Setelah ini, saya ingin terus berlatih lebih giat lagi supaya bisa menjadi seperti idola saya, Keysya (Arabella),” ujarnya.
Dua nama tersebut menjadi bagian dari cerita yang lahir dari MLSC Yogyakarta. Afita menunjukkan ketangguhan dengan membawa pulang penghargaan pemain terbaik setelah timnya menjadi runner-up. Sementara Alisya menutup turnamen dengan gelar juara dan predikat top skor.
Keduanya memperlihatkan bahwa perjalanan pemain sepak bola putri dapat dimulai dari lapangan sekolah, dibangun melalui latihan yang konsisten, lalu berkembang melalui pengalaman kompetisi.
Stadion Tridadi menjadi saksi satu tahapan kecil perjalanan mereka. Trofi yang dibawa pulang mungkin berbeda, tetapi semangat untuk terus berkembang membawa keduanya pada arah yang sama: mengejar mimpi di lapangan sepak bola. (Chaidir)
- Penulis: Chaidir






Saat ini belum ada komentar