Uang Saku, Belanja, hingga Risiko Digital: AIA SILABUS Ajak Mahasiswa UGM Melek Finansial
- account_circle Warjono
- calendar_month Kam, 27 Agu 2026
- comment 0 komentar

AIA mendorong literasi finansial di kalangan mahasiswa, melalui AIA SILABUS di Kampus UGM. (istimewa)
TERAS MALIOBORO–Mengatur uang saku, memilah kebutuhan dan keinginan, hingga memahami risiko transaksi digital menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Pesan itulah yang dibawa AIA SILABUS ke Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengajak lebih dari 150 mahasiswa membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini.
Edukasi literasi finansial ini hadir di tengah masih adanya kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan pemahaman masyarakat dalam menggunakannya. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 11 Agustus 2026 mencatat indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa sebesar 62,72 persen.
Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 69,57 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa sudah mencapai 92,76 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap produk dan layanan keuangan telah semakin luas, tetapi pemahaman mengenai cara memanfaatkannya secara bijak masih menjadi pekerjaan penting.
Mahasiswa Perlu Melek Finansial Sejak Sekarang
Melalui program AIA SILABUS, mahasiswa diajak memahami bahwa literasi finansial tidak harus menunggu seseorang memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap.
Head of Corporate Communication AIA, Lia Merdekawaty, mengatakan kesehatan finansial merupakan bagian penting dari kehidupan yang lebih sehat, lebih lama, dan lebih baik.
“Di AIA, kami percaya bahwa kesehatan finansial merupakan bagian penting dari hidup yang lebih sehat, lebih lama, lebih baik. Melalui program AIA SILABUS, kami ingin membekali generasi muda dengan pemahaman dan keterampilan dasar dalam mengelola keuangan secara bijak sejak dini,” ujar Lia.
Menurutnya, mahasiswa merupakan generasi yang kelak akan menjadi penggerak ekonomi. Karena itu, kemampuan membuat anggaran, memahami risiko keuangan, serta membangun kebiasaan berproteksi perlu dikenalkan sejak masa kuliah.
AIA juga mengajak mahasiswa mengambil peran lebih luas melalui program Duta Literasi. Mahasiswa yang mengikuti program ini dapat membagikan pengetahuan finansial kepada teman, keluarga, dan komunitas di lingkungan sekitar.
Aktivitas tersebut selanjutnya dapat dilaporkan sebagai bagian dari penilaian untuk memilih duta yang paling aktif. Ratusan Duta Literasi Keuangan ditargetkan dapat membantu memperluas edukasi finansial kepada masyarakat.
Belanja Boleh, Asal Tahu Prioritas
Bertempat di Gedung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, peserta mendapatkan edukasi bersama Olivia Louise, Certified Financial Planner sekaligus kreator konten keuangan.
Salah satu fokus pembahasan adalah bagaimana mahasiswa memahami kondisi keuangan pribadi dan membuat keputusan yang lebih rasional dalam mengelola uang. Mahasiswa diajak membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menetapkan prioritas pengeluaran, serta membangun kebiasaan mencatat arus uang.
Bagi mahasiswa, persoalan finansial sering kali muncul bukan karena tidak memiliki uang sama sekali, melainkan karena belum terbiasa menentukan mana yang harus didahulukan.
Keinginan membeli barang, nongkrong bersama teman, mengikuti tren, hingga berbagai kemudahan transaksi digital dapat membuat pengeluaran kecil menumpuk tanpa terasa.
Karena itu, kemampuan mengenali pola pengeluaran menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun kesehatan finansial.
Waspada Risiko Keuangan Digital
Selain membahas pengelolaan uang sehari-hari, AIA SILABUS juga mengajak mahasiswa memahami tren dan risiko keuangan digital.
Kemudahan pembayaran dan berbagai layanan keuangan digital membuat aktivitas finansial semakin praktis. Namun, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi pemahaman mengenai risiko dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Olivia Louise menekankan bahwa kebiasaan finansial dapat dibangun berapa pun jumlah uang yang dimiliki.
“Banyak mahasiswa merasa perencanaan keuangan baru diperlukan ketika sudah memiliki penghasilan tetap. Padahal kebiasaan finansial dapat dibangun sejak sekarang, berapa pun uang yang dimiliki, mulai dari mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga menyisihkan dana secara konsisten,” ujarnya.
Menurut Olivia, langkah sederhana tersebut dapat membuat mahasiswa lebih siap mengambil keputusan finansial ketika memasuki fase kehidupan berikutnya.
AIA SILABUS tidak menghadirkan edukasi dalam format seminar yang monoton. Untuk mendekatkan materi dengan karakter generasi muda, berbagai aktivitas interaktif disiapkan di dalam dan sekitar bus edukasi.
Mahasiswa dapat mengikuti workshop, kuis, dan permainan bertema finansial. Penampilan musisi Meiska juga turut memeriahkan kegiatan.
Konsep tersebut membuat edukasi keuangan lebih dekat dengan keseharian mahasiswa. Materi yang dibahas bukan sekadar teori, tetapi dapat langsung dikaitkan dengan keputusan yang mereka hadapi setiap hari.
Mulai dari mengatur uang saku, menentukan batas pengeluaran, menahan pembelian impulsif, hingga memahami risiko saat menggunakan layanan keuangan digital.
AIA berharap program AIA SILABUS tidak berhenti di lingkungan kampus. Melalui Duta Literasi, mahasiswa didorong menjadi penyambung informasi bagi lingkungan terdekatnya.
Pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan dapat dibagikan kembali kepada teman, keluarga, maupun komunitas. Dengan demikian, edukasi finansial diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi ikut menyebar ke lingkungan yang lebih luas.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen AIA untuk mendukung peningkatan literasi finansial di Indonesia serta agenda literasi dan inklusi keuangan nasional yang dicanangkan OJK.
Pada akhirnya, literasi finansial bukan hanya tentang seberapa besar uang yang dimiliki. Lebih dari itu, literasi finansial adalah kemampuan membuat keputusan yang tepat terhadap uang yang ada. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar