Siapa Pemilik Hamzah Batik di Jogja? Mengenal Hamzah Sulaiman, Sang Raminten Legenda Malioboro
- account_circle Warjono
- calendar_month Sen, 28 Sep 2026
- comment 0 komentar

Pemilik Hamzah Batik Jogja, Hamzah Sulaiman. (istimewa)
TERAS MALIOBORO–Di balik musibah kebakaran Hamzah Batik Malioboro pada Senin dini hari 28 September 2026, ada nama besar yang tak bisa dilepaskan dari ikon oleh-oleh Jogja tersebut: Hamzah Sulaiman.
Warga Jogja lebih mengenalnya dengan nama Raminten. Ya, pemilik Hamzah Batik adalah sosok di balik karakter wanita Jawa berkebaya, bersanggul, dan berkacamata yang legendaris itu.
Lalu siapa sebenarnya pemilik Hamzah Batik? Hamzah Sulaiman lahir dengan nama Bernardinus Hamzah Sulaiman pada 7 Januari 1950 di Yogyakarta. Ia adalah anak bungsu dari pendiri Grup Mirota, pasangan Hendro Sutikno (Tan Kiem Tik) dan Tini Yuniati (Nyoo Tien Nio).
Meski lahir dari keluarga pengusaha besar, jalannya tidak instan. Ia sempat kuliah Biologi di UGM namun tidak selesai, lalu pindah ke Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma. Setelah lulus, ia justru memilih merantau menjadi pelayan di kapal pesiar pada tahun 1970 dan bekerja di Amerika Serikat selama tiga tahun.
Ia baru pulang ke Jogja karena ayahnya sakit. Bersama saudara-saudaranya, ia mengembangkan Toko Mirota, dan pada tahun 1976 ia membuka butik kecil yang ia beri nama Mirota Batik, yang kini kita kenal sebagai Hamzah Batik.
Dari Mirota Batik Menjadi Hamzah Batik dan Lahirnya Raminten
Awalnya toko itu hanya menjual batik. Namun kecintaan Hamzah pada budaya Jawa membuat tokonya berkembang pesat. Puncaknya setelah kebakaran hebat tahun 2004 yang menghanguskan gedung lamanya, ia membangun kembali gedung 3 lantai seluas 802 m² di depan Pasar Beringharjo. Sebagai penghormatan, namanya diubah menjadi Hamzah Batik.
Nama Raminten sendiri lahir dari panggung ketoprak komedi “Pengkolan” di Jogja TV. Karakter perempuan Jawa tua yang ia perankan dengan totalitas itu sangat dicintai masyarakat. Nama itu kemudian ia abadikan menjadi kerajaan bisnisnya: The House of Raminten (berdiri 26 Desember 2008), Raminten Cabaret Show, hingga Hamzah Batik itu sendiri.
Atas dedikasinya melestarikan budaya, Keraton Yogyakarta menganugerahinya gelar kehormatan Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamijinindyo dari Sultan Hamengkubuwono X.
Kiprah Hamzah Sulaiman di Jogja
Kiprah pemilik Hamzah Batik di Jogja jauh melampaui sekadar bisnis:
- Pelestari Budaya: Ia rutin menggelar event Sabtu Kliwon di pelataran Hamzah Batik, edukasi membatik masal 20 meter di pedestrian Malioboro, dan mengusung konsep “Nginep Suwe” agar wisatawan lebih lama tinggal di Jogja.
- Pemberdaya UMKM: Hamzah Batik menjadi wadah bagi ratusan UMKM Jogja untuk menitipkan produk batik, kerajinan, dan camilan tradisional. Falsafahnya adalah “keluarga besar yang tumbuh dengan cinta kasih”.
- Ikon Pariwisata: Dari kuliner jamu seharga Rp 1.000 (sego kucing) hingga restoran House of Raminten di Kotabaru, semuanya menjadi destinasi wajib wisatawan.
Hamzah Sulaiman telah berpulang pada 23 April 2025 di RSUP Dr. Sardjito dalam usia 75 tahun karena sakit gula. Namun warisannya tetap hidup. Kini bisnis Hamzah Batik diteruskan oleh putra-putrinya.
Kebakaran pada 28 September 2026 ini pun seolah menjadi ujian kedua, setelah 2004. Jika dulu almarhum mampu bangkit dan membuat Hamzah Batik lebih megah, kini publik menanti kebangkitan kedua dari ikon Malioboro tersebut. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar