Telkom Catat Pendapatan Rp37,2 Triliun pada Kuartal I 2026, Transformasi TLKM 30 Mulai Berbuah Hasil
- account_circle Warjono
- calendar_month Sab, 30 Mei 2026
- comment 0 komentar

Direktur Utama Telkom Diwan Siswarini. (istimewa)
TERAS MALIOBORO–PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengawali tahun 2026 dengan kinerja yang solid di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Perseroan berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun pada kuartal pertama 2026 atau tumbuh 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa strategi transformasi perusahaan melalui program TLKM 30 mulai menunjukkan hasil nyata. Selain menjaga disiplin operasional, Telkom juga terus mempercepat berbagai inisiatif transformasi untuk memperkuat daya saing dan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2026, Telkom mencatat EBITDA sebesar Rp18 triliun dengan margin EBITDA mencapai 48,3 persen. Sementara laba bersih tercatat Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih sebesar 11,7 persen. Adapun laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun dengan margin 13,8 persen.
Meski laba bersih mengalami tekanan akibat percepatan depresiasi dan normalisasi bisnis selama fase transformasi, kondisi tersebut dinilai bersifat sementara dan tidak memengaruhi fundamental operasional perusahaan. Bahkan, arus kas operasional tumbuh 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun berkat implementasi efisiensi Total Expenditure (TOTEX) dan peningkatan kualitas penagihan.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk mempercepat pelaksanaan strategi TLKM 30.
“Tahun ini, Telkom akan semakin gencar dalam mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi menciptakan value yang optimal dan memastikan keberlangsungan perusahaan yang semakin solid ke depannya,” ujar Dian.
Segmen B2C Tetap Tumbuh, ARPU Telkomsel Melonjak
Kontributor utama pendapatan Telkom masih berasal dari segmen Business to Consumer (B2C), yang mencakup layanan seluler dan fixed broadband. Pada periode Januari-Maret 2026, Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didukung meningkatnya bisnis digital dan konsumsi data pelanggan. Payload data tercatat naik 2,3 persen, sementara Average Revenue Per User (ARPU) meningkat signifikan sebesar 6,4 persen menjadi Rp45.100.
Kenaikan ARPU menunjukkan semakin sehatnya kondisi industri telekomunikasi nasional, didukung strategi disiplin harga, penyederhanaan produk, dan peningkatan kualitas pengalaman pelanggan.
Menurut Dian, kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas dan internet terus meningkat dan belum menunjukkan tren perlambatan.
“Industri telekomunikasi masih sangat prospektif karena internet telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Kami optimistis memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan customer experience,” katanya.
Bisnis Infrastruktur B2B Jadi Motor Pertumbuhan Baru
Selain segmen konsumer, pertumbuhan kuat juga terlihat pada segmen Business to Business (B2B) Infrastructure. Segmen ini mencatat pendapatan Rp2,4 triliun atau tumbuh 6,8 persen dibandingkan kuartal I 2025.
Pertumbuhan tersebut didorong ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang dijalankan oleh Mitratel. Anak usaha Telkom tersebut membukukan pendapatan Rp2,3 triliun dengan pertumbuhan 1,4 persen secara tahunan.
Mitratel juga terus memperluas kepemilikan jaringan fiber optik. Selama kuartal pertama 2026, perusahaan menambah jaringan sepanjang 1.080 kilometer sehingga total aset fiber optik mencapai 58.279 kilometer.
Strategi tersebut memperkuat posisi Mitratel sebagai perusahaan menara telekomunikasi generasi baru yang terintegrasi dan menjadi salah satu pemain terbesar di Asia Tenggara.
Bisnis Data Center dan AI Jadi Peluang Besar
Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital dan teknologi kecerdasan buatan (AI), bisnis data center menjadi salah satu sektor yang menjanjikan bagi Telkom.
Pendapatan data center berasal dari fasilitas yang dikelola NeutraDC Group serta jaringan edge data center NeuCentrIX. Perseroan menilai kebutuhan industri terhadap pusat data akan terus meningkat seiring masifnya transformasi digital di berbagai sektor.
Karena itu, Telkom menyiapkan langkah konsolidasi untuk menjadikan NeutraDC sebagai pengelola seluruh aset data center perusahaan. Strategi ini diharapkan mampu memperluas layanan, meningkatkan monetisasi aset, serta membuka peluang kolaborasi dengan mitra strategis global.
Di sisi lain, unit Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp2,8 triliun dengan pertumbuhan layanan interkoneksi mencapai 18,9 persen secara kuartalan berkat meningkatnya aktivitas bisnis suara internasional.
Transformasi TLKM 30 Berjalan Sesuai Target
Keberhasilan menjaga pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi menunjukkan bahwa transformasi TLKM 30 berjalan sesuai rencana. Sepanjang kuartal I 2026, Telkom mengalokasikan belanja modal sebesar Rp4,9 triliun atau setara 13,2 persen dari total pendapatan.
Sebanyak 99 persen investasi difokuskan pada pengembangan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan bisnis internasional. Sisanya digunakan untuk penguatan platform digital.
Perseroan juga terus menjalankan strategi streamlining melalui divestasi, merger, hingga likuidasi entitas non-inti guna meningkatkan efisiensi dan fokus bisnis.
Salah satu langkah strategis yang sedang berlangsung adalah divestasi AdMedika Group yang ditargetkan rampung pada semester pertama 2026. Selain itu, Telkom juga mempersiapkan pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity tahap kedua kepada InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal III 2026.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk membuka nilai aset, meningkatkan efisiensi pengelolaan infrastruktur, serta memperkuat bisnis B2B sebagai sumber pertumbuhan baru.
Ke depan, kontribusi bisnis fiber yang saat ini berada di kisaran 15 persen ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25 persen seiring optimalisasi utilisasi jaringan dan penyelesaian proses transfer aset.
Dengan penguatan bisnis infrastruktur, data center, ICT, dan layanan internasional, Telkom optimistis mampu menciptakan komposisi pendapatan yang lebih seimbang antara segmen B2C dan B2B serta memperkokoh posisinya sebagai penggerak utama ekosistem digital Indonesia. (*)
- Penulis: Warjono






Saat ini belum ada komentar