ANTARA ZIKIR DAN TASBIH (1)
- account_circle Ustadz Sujarwo
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Teras Malioboro – Tulisan Antara Zikir dan Tasbih ini, terinspirasi dari tulisan Bu Binti yang dimuat di group One Week One Juz. Sewaktu beliau memberi ulasan tafsir dan tadabbur terkait ayat 41-42 dari surah Al Ahzab.
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
Di antara kata yang paling akrab di telinga seorang Muslim adalah zikir dan tasbih. Keduanya hadir dalam doa, pengajian, dan percakapan sehari-hari. Namun Al-Quran menyebut keduanya secara berdampingan, seolah ingin mengajarkan bahwa meskipun keduanya berjalan beriringan, masing-masing memiliki ruang makna dan kedalaman. Dari sinilah kita diajak memasuki sebuah perjalanan batin yang tidak hanya melibatkan ucapan, tetapi juga kesadaran.
Zikir pada hakikatnya adalah menghadirkan Allah ke dalam ingatan dan kesadaran. Ia bukan sekadar gerakan lidah, melainkan hidupnya hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam setiap keadaan. Ketika seseorang menahan amarah karena merasa diawasi Allah atau ketika ia mengurungkan keburukan karena teringat Allah, di situlah zikir menemukan penghayatan. Sebab hakikat zikir bukan banyaknya lafaz yang diucapkan, melainkan hadirnya Allah dalam ruang kesadaran.
Tasbih memiliki warna yang berbeda. Meskipun Tasbih bagian dari zikir, namun arah utamanya bukan sebatas tentang mengingat Allah. Justru lebih tentang menyucikan Allah dari segala kekurangan dalam pikiran dan pandangan. Ketika seseorang mengucapkan سُبْحَانَ اللَّهِ, ia sesungguhnya sedang melepaskan Allah dari segala prasangka, tuduhan, dan keterbatasan pemahaman. Ia mengakui bahwa pengetahuannya terbatas, sedangkan Allah adalah sumber mata air pengetahuan. Ia menyadari bahwa pandangannya pendek, sedangkan Allah melihat seluruh perjalanan.
Bayangkan seseorang berjalan di malam hari dengan membawa lampu kecil sebagai sumber penerangan. Cahaya lampu itu membantunya mengenali jalan dan menentukan arah tujuan. Itulah perumpamaan zikir yang menjaga hati tetap berada dalam ingatan. Namun apabila kaca lampu itu dipenuhi debu, cahaya yang keluar akan menjadi redup dan kehilangan sebagian kejernihan. Membersihkan kaca itulah tasbih, yaitu membersihkan cara pandang agar tidak terhalang oleh prasangka dan kesalahpahaman.
Karena itu seseorang dapat saja banyak berzikir, tetapi belum tentu banyak bertasbih dalam pandangan. Ia masih menyebut nama Allah dalam doa dan permohonan, tetapi mulai mempertanyakan keadilan Allah ketika berhadapan dengan ujian. Ia masih mengingat Allah ketika membutuhkan pertolongan, tetapi diam-diam menyimpan keraguan terhadap kebijaksanaan ketentuan. Dalam keadaan seperti itu, zikir masih hidup sebagai ingatan, tetapi tasbih belum tumbuh menjadi keyakinan.
Di sinilah kita dapat memahami mengapa Nabi Yunus memulai doanya dengan tasbih sebelum pengakuan. Beliau tidak memulai dengan keluhan atau pembelaan, melainkan dengan penyucian. Beliau tidak terlebih dahulu menjelaskan kesulitannya, melainkan lebih dahulu menegaskan kesempurnaan Allah yang Maha Rahman. Seolah-olah beliau sedang berkata bahwa jika ada yang perlu diperbaiki, maka yang membutuhkan perbaikan adalah dirinya, bukan keputusan dan ketetapan Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang kehilangan ketenangan bukan karena kurang berzikir, melainkan karena kurang bertasbih. Mereka masih mengingat Allah ketika berdoa, tetapi kesulitan menerima jalan yang berbeda dari harapan. Mereka masih menyebut nama Allah dalam lisan, tetapi belum sepenuhnya percaya kepada keluasan perencanaan. Padahal sering kali yang perlu diubah bukan keadaan di luar diri, melainkan cara kita memandang Allah dalam setiap kejadian.
Seorang petani yang menanam benih tidak mencabutnya setiap hari untuk memastikan apakah ia sudah tumbuh atau belum. Ia percaya bahwa kehidupan sedang bekerja di bawah tanah dalam kesunyian. Ia tidak melihat prosesnya, tetapi ia tetap merawat dengan penuh keyakinan.
Dalam banyak hal, tasbih adalah kemampuan untuk tetap mempercayai kebijaksanaan dan ketetapan Allah meskipun kita belum memahami seluruh penjelasan.
Mungkin karena itulah Al-Qur’an memerintahkan zikir dan tasbih secara bersamaan. Zikir menjaga hati agar tidak tenggelam dalam kelalaian. Tasbih menjaga hati agar tidak tersesat dalam prasangkaan. Zikir menumbuhkan kedekatan. Tasbih memurnikan pandangan. Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan, melainkan bertumpu pada keyakinan bahwa Allah senantiasa menyertai kita dalam setiap perjalanan.***
- Penulis: Ustadz Sujarwo






Saat ini belum ada komentar